Bokepan.org | Nonton Bokep ABG Indo
Nonton Bokep ABG Indo
Beranda 🔥 Trending
Bright Mode
Dark Mode
ABG Mahasiswi Creampie Bokep Indo Bokep Jepang Anak SMA Anak SMP Masturbasi Panlok Anak Sekolah Hijab Bispak SPG Perawan Gang Bang Skandal Selebgram Outdoor Bokep Barat Viral MILF Blowjob Anal JAV Uncensored Amateur Cantik Bokep Cina Cosplay
Kategori
Randomize Icon
Acak Video
ABG Cantik Colmek(1)
742
0
-
2 months ago
Video ini sudah dilaporkan kalau video ini rusak.
Description :
Nama saya Evonny, saya berumur 17 tahun dan saya putra ke-2 dari pasangan Menado-Sunda. Kulit saya putih, tingginya sekitaran 168 cm dan beratnya 50 kg. Rambut saya naik ke pundak dan dada 36B. Di keluarga saya, semua wanita seperti saya, jadi tidak seperti gadis-gadis yang lain mengidamkan badan yang cantik sampai mereka ingin ikuti diet ketat. Di keluarga kami, makan apa saja itu semacam itu. Satu sore, diperjalanan pulang sesudah bersorak di sekolah, ayah saya menjelaskan ke saya untuk mengirim beberapa surat penting ke rumah temannya, yang umum diundang Om David. Sama seperti yang terjadi, tempat tinggalnya betul-betul ke rumah kami karena berada di kompleks yang serupa di dalam rumah elit di selatan Jakarta. Ini ialah David, walau ia telah ada di ujung kepala keempatnya, tapi mukanya dan stylenya masih tetap seperti orang muda. Saya selalu jatuh hati kepadanya untuk waktu lama. Selainnya ganteng dan rambutnya sedikit abu-abu, badannya tinggi dan terbiasa dan hobynya berenang dan tenis. Ayah saya mengenalinya dari kampus, jadi kami benar-benar dekat sama keluarganya. Ke-2 anaknya belajar dalam Amerika Serikat, sementara istrinya aktif berperan serta dalam aktivitas sosial dan umumnya ke acara pesta. Tante Vina, istri Om David, umumnya mengundang ibu, tapi ibu selalu menampik karena ia lebih sukai di dalam rumah. Dengan pengemudi diantarkan, saya datang di dalam rumah Om David, yang nampaknya simpel di luar tapi dalam ada kolam besar dan taman. Semenjak saya masih kecil, saya seringkali kesini, tapi baru ini kali saya tiba sendiri tanpa ayah atau ibu saya. Bahkan juga dengan seragam bersorak saya yang terbagi dalam rok lipit biru yang panjangnya beberapa puluh cm di atas paha dan tank hebat putih, saya memencet bel pintu sekalian kenakan amplop besar yang dipercaya oleh ayah saya. Bahkan juga, si ayah mempunyai usaha dengan Om David, yang disebut pebisnis kayu, hingga mereka sudah aktif mengontak akhir-akhir ini. Karena ayah mempunyai tatap muka yang tidak dapat diundur, ia tidak bisa mengirimi surat sendiri. Seorang pembantu wanita yang telah cukup tua keluar dalam dan membuka pintu bagiku. Dalam pada itu kusuruh supirku menantiku di luar. Saat masuk ruangan tamu, sang pembantu berbicara, "Tuan sedang berenang, Non. Nantikan saja di sini agar saya beritahukan Tuan jika Non telah tiba." "Terima kasih, Bi." jawabku sekalian duduk di sofa yang empuk. Telah 10 menit lebih menanti, sang bibi tidak muncul-muncul , begitu halnya Om David. Karena jemu, saya jalanan dan sampai di pintu yang rupanya menyambungkan rumah itu dengan halaman belakang dan kolam renangnya yang cukup besar. Kubuka pintunya dan di pinggir kolam kusaksikan Om David yang berdiri dan keringkan badan dengan handuk. "Ooh.." pekikku dalam hati untuk menyaksikan badan atletisnya khususnya bulu-bulu dadanya yang lebat, dan benjolan antara ke-2 pahanya. Mukaku cukup memeras karena tiba-tiba saya jadi horny, dan payudaraku berasa gatal. Om David melihat dan melihatku berdiri terdiam dengan tatapan tolol, ia juga ketawa dan panggilku untuk mendatanginya. "Halo Karin, apa kabarnya kamu..?" sapa Om David hangat sekalian memberi sun di pipiku. Aku juga balas sun ia walaupun kagok, "Oh, baik Om. Om sendiri apa kabarnya..?" "Om baik saja. Kamu baru pulang dari sekolah yah..?" bertanya Om David sekalian melihatku di atas sampai ke bawah. Tatapannya stop sesaat di dadaku yang membusung terbungkus kaos ketat, dan saya sendiri cuma bisa tersenyum menyaksikan benjolan di celana renang Om David yang ketat itu mengeras. "Iya Om, baru latihan cheers. Tante Mella mana Om..?" ujarku basa-basi. "Tante Mella kembali ke Bali sama beberapa temannya. Om ditinggalkan sendirian nih." balas Om David sekalian memasangkan kimono di badannya. "Ooh.." jawabku dengan suara sedikit sedih karena tidak bisa menyaksikan badan atletis Om David dengan bebas kembali. "Ke dapur yok..!" "Kamu ingin minum apa Rin..?" bertanya Om David saat kami sampai di dapur. "Air putih saja Om, agar tahan lama muda." jawabku asal. Sekalian menanti Om David tuangkan air dingin ke dalam gelas, saya berpindah duduk ke atas meja di tengah dapurnya yang luas karena tidak ada kursi di dapurnya. "Duduk di sini bisa yah Om..?" tanyaku sekalian silangkan kaki kananku dan biarkan paha putihku semakin tinggi kelihatan. "Bisa kok Rin." kata Om David sekalian dekatiku dengan bawa gelas berisi air dingin. Tetapi entahlah karena penglihatannya terdiam pada langkah dudukku yang memikat itu atau memang betulan tidak menyengaja, kakinya terganjal ujung keset yang ada di lantai dan Om David juga sempoyong di depan sampai menumpahkan isi gelas barusan ke pakaian dan rokku. "Aaah..!" pekikku terkejut, sedang ke-2 tangan Om David langsung meraih pahaku untuk meredam badannya supaya tidak jatuh. "Aduh.., begimana sich..? Om tidak menyengaja Rin. Maaf yah, pakaian kamu jadi basah semua tuch. Dingin tidak airnya barusan..?" bertanya Om David sekalian cepat-cepat ambil lap dan mengusap rok dan kaosku. narasi cabul Saya yang kaget cuma diam memperhatikan tangan Om David yang ada di atas dadaku dan matanya yang terlihat fokus mengusap kaosku. Putingku tercetak makin terang dibalik kaosku yang basah dan embusan napasku yang mengincar menimpa muka Om David. "Om.. sudah Om..!" kataku lirih. Ia juga melihat ke atas melihat mukaku dan bukanlah menjauh justru menempatkan kain lap barusan di sampingku dan dekatkan kembali mukanya ke mukaku dan tersenyum sekalian mengelus rambutku. "Kamu elok, Karin.." katanya halus. Saya jadi menunduk malu tetapi tangannya mengusung daguku dan malah menciumku pas di bibir. Saya refleks pejamkan mata dan Om David kembali menciumku tetapi saat ini lidahnya coba menekan masuk ke mulutku. Saya ingin menampik rasanya, tetapi dorongan dari dalam tidak bisa bohong. Saya balas melumat bibirnya dan tanganku raih bahu Om David, sedang tangannya sendiri meraba-raba pahaku dari dalam rokku yang semakin terangkut sampai kelihatan terang celana dalam dan selangkanganku. Kecupannya semakin buas, dan sekarang Om David turun ke leher dan menciumku di situ. Sekalian berciuman, tanganku raih pengikat kimono Om David dan membuka. Tanganku mencari dadanya yang sektor dan bulu-bulunya yang lebat, selanjutnya mengecupnya halus. Dalam pada itu tangan Om David tidak ingin kalah bergerak mengelus celana dalamku di luar, selanjutnya ke atas kembali dan meremas payudaraku yang telah gatal sejak dari barusan. Saya melenguh cukup keras dan Om David juga semakin giat meremas-remas dadaku yang montok itu. Perlahan-lahan ia melepas kecupannya dan saya biarkan ia melepaskan kaosku di atas. Sekarang saya duduk cuma kenakan bra hitam dan rok cheersku itu. Om David melihatku tidak berkedip-kedip. Selanjutnya ia bergerak cepat melumat kembali bibirku dan sekalian french kissing, tangannya melepaskan hubungan bra-ku dari belakang dengan tangannya yang cekatan. Sekarang dadaku betul-betul telanjang bundar. Saya masih berasa aneh karena baru ini kali saya telanjang dada di muka pria yang bukan kekasihku. Om David mulai meremas ke-2 payudaraku berganti-gantian dan saya memutuskan untuk pejamkan mata dan nikmati saja. Mendadak saya berasa putingku yang telah tegang karena gairah itu jadi basah, dan rupanya Om David sedang asyik menjilatnya dengan lidahnya yang panjang dan tebal. Uh.., jago sekali ia melumat, mencium, menarik-narik dan mengisap-hisap puting kiri dan kananku. narasi dewasa Tanpa kusadari, aku juga keluarkan erangan yang cukup keras, dan itu justru makin menambah Om David bergairah. "Oom.. aah.. aah..!" "Rin, kamu kok seksi sekali sich..? Om sukai sekali sama tubuh kamu, bagus sekali. Apa lagi ini.." godanya sekalian melintir putingku yang semakin muncul dan tegang. "Ahh.., Om.. gelii..!" balasku manja. "Sshh.. tidak boleh panggil ‘Om', saat ini panggil ‘David' saja ya, Rin. Kamu kan sudah besar.." katanya. "Iya dech, Om." jawabku nakal dan Om David juga menyengaja melintir ke-2 putingku lebih keras kembali. "Eeeh..! Om.. eh David.. geli aah..!" kataku sekalian sedikit cemberut tetapi ia tidak menjawab malah mencium bibirku mesra. Entahlah kapan persisnya, Om David sukses loloskan rok dan celana dalam hitamku, yang jelas tiba-tiba saya telah telanjang bundar di atas meja dapur itu dan Om David sendiri telah melepaskan celana renangnya, tinggal menggunakan kimononya saja. Sekarang Om David membungkuk dan jilatannya berpindah ke selangkanganku yang menyengaja kubuka dengan lebar-lebarnya supaya ia bisa menyaksikan isi vaginaku yang merekah dan warna merah muda. Selanjutnya lidah yang hangat dan basah itu juga berpindah ke atas dan memulai mengerjai klitorisku di atas ke bawah dan demikian terus berkali-kali sampai saya mengeluh tidak ketahan. "Aeeh.. uuh.. Rob.. aawh.. ehh..!" Saya cuma bisa mengelus dan menjambak rambut Om David dengan tangan kananku, sedang tangan kiriku usaha berdasar pada atas meja untuk menyokong badanku supaya tidak jatuh ke belakang atau ke depan. Tubuhku berasa melafalkanng dan cairan vaginaku berasa mulai menetes keluar dan Om David juga menjilat-jilatinya secara cepat sampai vaginaku berasa kering kembali. Tubuhku selanjutnya direbahkan di atas meja dan dibiarkannya kakiku menjuntai ke bawah, sedang Om David memperlebar ke-2 kakinya dan bersiap masukkan penisnya yang besar dan telah tegang dari barusan ke vaginaku yang tidak sabar ingin dimasuki olehnya. Perlahan-lahan Om David menggerakkan penisnya ke vaginaku yang sempit dan penisnya mulai menggosoki dinding vaginaku. Rasanya betul-betul nikmat, geli, dan entahlah apalagi, dasarnya saya cuma pejamkan mata dan nikmati semua. "Aawww.. besar sekali sich Rob..!" ujarku karena dari barusan Om David belum sukses masukkan semua penisnya ke vaginaku itu. "Iyah.., tahan sesaat yah Sayang, vagina kamu sempitnya.. ampun dech..!" Saya tersenyum sekalian meredam pergolakan gairah yang telah menggebu. Pada akhirnya sesudah 5 kali lebih coba masuk, penis Om David sukses masuk semuanya ke vaginaku dan pinggulnya mulai bergerak mundur-maju. Lama-lama pergerakannya semakin cepat dan kedengar Om David mengeluh kenikmatan. "Ah Rin.. nikmat Rin.. aduuh..!" "Iii.. iyaa.. Om.. enakk.. ngentott.. Om.. teruss.. eehh..!" balasku sekalian merem terbuka kenikmatan. Om David tersenyum mendengarku yang mulai meracau bicaranya. Memang jika sudah ini umumnya keluar kalimat kasar dari mulutku dan rupanya itu membuat Om David makin gairah saja. narasi seks "Awwh.. awwh.. aah..!" orgasmeku mulai kembali. Selang beberapa saat tubuhku diperosotkan ke bawah di atas meja dan diputar menghadap di depan meja, membelakangi Om David yang tetap berdiri tanpa mengambil penisnya dari dalam vaginaku. Diputar demikian rasanya cairanku menetes ke antara paha kami dan gesekannya betul-betul nikmat. Sekarang statusku membelakangi Om David dan ia mulai memacu kembali dengan style doggie model. Tubuhku membungkuk di depan, ke-2 payudara montokku menggantung bebas dan turut berayun-ayun setiap pinggul Om David mundur-maju. Aku juga turut memutar-mutar pinggul dan bokongku. Om David percepat pergerakannya sekalian kadang-kadang meremas gaungs bokongku yang semok dan putih itu, selanjutnya beralih di depan dan cari putingku yang sangat tegang dari barusan. "Awwh.. lebih keras Om.. pentilnya.. puterr..!" rintihku dan Om David langsung meremas putingku lebih keras kembali dan tangan satunya bergerak cari klitorisku. Ke-2 tanganku berdasar pada ujung meja dan kepalaku melihat ke belakang menyaksikan Om David yang merem terbuka kenikmatan. Edan rasanya badanku banjir keringat dan enaknya tangan Om David di mana saja yang menggerayangi badanku. Putingku diputar-putar semakin keras sekalian kadang-kadang payudaraku diremas kuat. Klitorisku digosok-gosok semakin edan, dan hentakan penisnya masuk keluar vaginaku semakin cepat. Pada akhirnya orgasmeku mulai kembali. Seperti terserang badai, badanku melafalkanng kuat dan lututku lemas sekali. Begitu halnya Om David, pada akhirnya ia ejakulasi dan memuncratkan spermanya dalam vaginaku yang hangat. "Aaah.. Riin..!" erangnya. Om David melepas penisnya dari dalam vaginaku dan saya berlutut lemas sekalian bertumpu dari sisi meja dapur dan atur napasku. Om David duduk di sebelahku dan kami sama masih tersengal-sengal sesudah pertarungan yang hebat barusan. "Sini Om..! Karin bersihkan bekasnya barusan..!" ujarku sekalian membungkuk dan menjilat-jilati beberapa sisa cairan cinta barusan disekitaran selangkangan Om David. Om David cuma termenung sekalian mengelus rambutku yang telah berantakan. Sesudah bersih, giliran Om David yang menjilat-jilati selangkanganku, selanjutnya ia kumpulkan baju seragamku yang bertebaran di lantai dapur dan mengantarku ke kamar mandi. Sesudah membersihkan vaginaku dan menggunakan seragamku kembali, saya keluar menjumpai Om David yang rupanya telah menggunakan kaos dan celana kulot, dan kami sama tersenyum. "Rin, Om meminta maaf yah justru ini jadi, kamu tidak menyesal kan..?" tutur Om David sekalian menarik diriku duduk di pangkuannya. "Tidak Om, sejak dahulu Karin memang suka sama Om, menurut Karin Om itu teman ayah yang paling tampan dan baik." pujiku. "Terima kasih ya Sayang, ingat jika terjadi apa-apa tidak boleh enggan telepon Om yah..?" balasnya. "Iya Om, terima kasih yah bermainnya tadi, Om jago dech." "Iya Rin, kamu juga. Om saja tidak sangka kamu dapat muasin Om seperti barusan." "He.. he.. he.." saya tersipu malu. "Oh ya Om, ini titipannya ayah nyaris lupa." ujarku sekalian cepat-cepat memberikan titipan ayah pada Om David. "Iya, terima kasih ya Karin sayang.." jawab Om David sekalian tangannya meraba pahaku kembali dari dalam rokku. "Aah.. Om, Karin perlu pulang nih, sudah sore." elakku sekalian melepas diri dari Om David. Om David juga berdiri dan mencium pipiku halus, selanjutnya mengantarku ke mobil dan aku juga pulang. Dalam mobil, supirku yang kemungkinan bingung melihatku tersenyum-senyum sendirian ingat peristiwa barusan juga menanyakan. "Non, kok lama sangat sich nganter amplop doang..? Ditahan dahulu yah Non..?" Sekalian meredam tawa aku juga berbicara, "Iya Pak, diberi ‘wejangan' juga.." Supirku cuma bisa melihatku dari kaca spion dengan penglihatan tidak pahami dan saya cuma membalas dengan senyum rahasia. He..he..he..
ABG Bokep Indo Masturbasi Panlok Bispak
Belum ada komentar dikirimkan
Nonton Bokep ABG Indo