Bokepan.org | Nonton Bokep ABG Indo
Nonton Bokep ABG Indo
Beranda 🔥 Trending
Bright Mode
Dark Mode
ABG Mahasiswi Creampie Bokep Indo Bokep Jepang Anak SMA Anak SMP Masturbasi Panlok Anak Sekolah Hijab Bispak SPG Perawan Gang Bang Skandal Selebgram Outdoor Bokep Barat Viral MILF Blowjob Anal JAV Uncensored Amateur Cantik Bokep Cina Cosplay
Kategori
Randomize Icon
Acak Video
ABG SMP Nakal Masturbasi Colmek
613
0
-
2 months ago
Video ini sudah dilaporkan kalau video ini rusak.
Description :
Hai, kenalkan namaku Linda. Umurku saat ini 18 tahun. Teman-temanku kerap beri pujian mukaku yang bundar dan manis dengan rambutku yang hitam sebahu yang menurutnya sangat cocok dengan wujud mukaku. Badanku yang imut dengan tinggi 152 cm, memberikan kesan-kesan imut yang kerap jadi daya magnet tertentu untuk teman-temanku. Saya sebagai seorang mahasiswi turunan Chinese dari Medan yang dapat termasuk sebagai pendatang baru di Jakarta. Saya mengelana ke Jakarta sendirian untuk meneruskan pengajaranku dalam suatu kampus swasta di Jakarta Barat. Setiap harinya saya bekerja sebagai guru les private yang mengajarkan anak-anak sekolah yang secara umum ialah anak-anak SMP atau SD. Saya lakukan ini untuk mengongkosi uang kuliah dan semua kepentinganku. Wajarlah, sebagai pendatang baru di kota besar seperti Jakarta, saya harus dapat mengongkosi semua kepentinganku sendiri. Apa lagi keluargaku yang dari wilayah bukan termasuk keluarga yang lumayan mampu untuk mengongkosiku, karena itu saya memilih untuk berdikari sendiri di perantauanku. Satu hari, saya mendapatkan panggilan dari sebuah keluarga yang ingin supaya saya mengajarkan les anak tunggal mereka. Mereka tawarkan upah yang buatku sangat tinggi dan kurasa cukup buat mengongkosi kehidupanku di Jakarta. Tanpa berpikir panjang kembali, selekasnya kuterima penawaran keluarga itu, dan kami sepakat jika saya mulai akan mengajarkan anak mereka esok sore harinya sehabis pulang kuliah. Keesokannya, aku juga tiba untuk memulai mengajarkan siswa baruku itu. Sesampai di dalam rumah itu, saya terheran menyaksikan arsitektur rumah itu yang seperti sebuah istana yang diperlengkapi taman hijau dan dikitari pagar terali yang tinggi. Dibanding dengan rumahku di wilayah yang cuma ¼ luas rumah itu, apa lagi tempat kosku yang kecil dan sempit, sudah pasti mempunyai rumah semacam ini menjadi mimpiku semenjak kecil. DING-DONG!! Kutekan bel pintu di samping pagar rumah itu. "Siapa?" kedengar suara wanita di Interkom yang berada dari sisi bel pintu itu. "Saya Linda, guru les private anak anda yang baru!" jawabku "Oh, Linda! Mari, silahkan masuk!" Mendadak, gerbang terali rumah itu terbuka. Aku juga selekasnya masuk ke. Pintu garasi itu terbuka dan keluarlah seorang wanita separuh baya, umurnya sekitaran 40-an tahun. Dari performanya yang necis seperti seorang business-woman, jelas sudah jika dia ialah pemilik rumah ini. Wanita itu selekasnya menyongsong kedatanganku. "Halo, Linda! Bagaimana beritanya?" "Baik saja bu. Anda Bu Diana? Ibu Reza?" tanyaku dengan santun. "Ya, benar! Mari masuk, kita berbicara di dalam!" katanya mempersilakanku masuk. Siswa Nakal 1 Sekalian ke arah ruangan tamu, kami bercakap-cakap sesaat. Dari sana saya tahu jika bu Diana ialah pemilik Bridal Studio terkenal di Jakarta sekalian seorang pendesain gaun pengantin yang kerap pergi ke luar negeri untuk menyaksikan beberapa pameran di luar negeri. Bahkan juga, di tempat tinggalnya banyak terpampang piala penghargaan untuk pendesain di pameran luar negeri. Sementara suaminya ialah kepala cabang sebuah bank multinasional yang sekarang ini tinggal di Jerman. Karena itu dia cuma tinggal berdua dengan anaknya di dalam rumah itu. Sering anaknya dipercayakan ke familinya jika bu Diana akan ke luar negeri. Aku juga dipersilakan untuk menanti di ruangan tamu sementara bu Diana mengambil minuman bagiku. Saya cuma terdiam menyaksikan hiasan-hiasan cantik di dalam rumah itu. Rasanya, harga salah satunya hiasan patung atau lukisan itu cukup buat mengongkosi uang kuliahku untuk satu semester. "Hayo, kok justru melamun?" saya dikejutkan oleh suara bu Diana yang selekasnya menyuguhkan satu gelas es sirop bagiku. "Eh… tidak… maaf, Bu!" saya tergagap salah tingkah, tetapi bu Diana cuma tersenyum melihatku. Bu Diana selekasnya duduk di sofa ruangan tamu dimukaku. "Nach, Linda. Kamu akan mengajarkan Reza awal hari ini. Ibu berharap kamu dapat membenahi nilai-nilainya di sekolah." "Baik bu. Saya akan usaha sebagus mungkin. " "Saya suka menyaksikan semangatmu. Tetapi apa kamu tahan hadapi anak-anak nakal?" "Memang ada apakah, bu?" tanyaku ingin tahu "Reza saat ini duduk di kelas 2 SMP, umurnya tahun ini 14 tahun. Kamu ketahui, itu periode yang riskan untuk anak remaja. Nilai Reza semakin menurun, dia seringkali habiskan waktunya buat bermain atau melihat di kamarnya." Bu Diana terlihat menghela napas. "Tenang saja, bu. Saya akan usaha untuk membuat belajar. Saya percaya, nilai Reza pasti selekasnya lebih baik." "Bagus. Performamu akan dipandang melalui nilai-nilai ujian semester mereka Juni ini." "Memiliki arti, lima bulan dari saat ini?" "Betul. Nantikan sesaat ya, Linda? Ibu akan panggil Reza dahulu." Saya menggangguk menyepakati. Bu Diana lalu bergerak ke lantai atas. Selang beberapa saat, Bu Diana turun dan seorang anak lelaki. Muka anak itu cukup ganteng, menurutku. Badannya terlihat besar untuk anak seusianya, bahkan juga lebih tinggi dariku. Tetapi wajahnya terlihat masam saat melihatku yang duduk didepannya. "Mari, berikan salam ke Kak Linda! Awal hari inilah yang hendak jadi guru privatmu!" "Reza." Anak itu terlihat acuh dan memberikan tangannya untuk bersalaman denganku. "Linda, salam mengenal!" Saya usaha tersenyum sekalian membalasnya juluran tangannya. "Baik, mari antara kak Linda ke kamarmu dan memulai belajar!" perintah bu Diana, yang cuma dijawab oleh gerutuan dari Reza. Saya tersenyum dan ikuti Reza ke kamarnya. Semenjak hari itu, saya mulai mengajarkan Reza sebagai guru privatnya. Hari untuk hari berakhir. Tidak berasa, telah tiga bulan berakhir semenjak hari itu. Setiap hari Senin sampai Jumat sore, saya terus mengajarkan Reza sebagai guru privatnya dengan teratur. Semakin lama aku juga makin mengenali Reza. Reza kerap berkawan dengan beberapa temannya, tetapi sayang Reza salah pilih pertemanan. Dia berkawan dengan anak-anak nakal di sekolahnya. Saya pernah menyaksikan beberapa temannya yang nakal itu, mereka sering kali ajak Reza untuk absen saat saya mengajarkan, yang sering dituruti olehnya, belum juga sikap mereka yang menurutku tidak santun atau langkah mereka berkawan yang lebih cenderung ke pertemanan bebas. Siswa Nakal 1 Saya selalu bersabar mengajarkan Reza, tetapi anak itu betul-betul bandel. Setiap saya mengajarkannya, dia cuma memedulikanku atau bengong melamun. Semua pekerjaan yang kuminta untuk ditangani tak pernah disentuhnya sama sekalipun. Parahnya kembali, sering kusaksikan kepingan DVD porno yang diselinapkannya di bawah kasurnya. Saya tak pernah mempedulikan hal tersebut, karena pekerjaanku di sini yaitu untuk mengajarkannya bahan pelajaran, tidak untuk menceramahinya. Karena mungkin dampak DVD itu dan pertemanannya, ia kerap memikatku menjadi kekasihnya. Saya masih singgel, tetapi kekasihan dengan anak di bawah usia? Tidak pernah benar-benar tebersit di benakku untuk lakukan hal tersebut, apa lagi Reza ialah siswaku. Kerap saya hampir kehilangan kesabaran karena tingkah Reza, tetapi saya selalu terpikir akan janjiku pada bu Diana untuk membenahi nilai Reza dan ingat ongkos yang dikeluarkan bu Diana untuk membayarku, cukup untuk membuatku selalu tabah hadapi kebandelan Reza. Tetapi seberapapun saya usaha meredam kesabaranku, ternyata kesabaran bu Diana mulai habis. Satu hari, dia panggilku saat saya mengajarkan Reza. "Linda, saya berpikir kamu sudah mengetahui jika nilai Reza sejauh ini benar-benar tidak lebih baik." Katanya cukup keras "Maaf, bu. Saya telah usaha, tetapi Reza…" "Saya tidak ingin dengar argumen, Linda. Kamu ketahui berapakah gajimu tiap bulan kan? Saya mengharap pengeluaran itu setimpal dengan hasil kamu beri. Tetapi jika ini hasilnya, saya betul-betul kecewa…" katanya dengan suara cukup ketus "Tapi…" "Ini saja. Saya tetap berdasar pada janji saya untuk menilaimu melalui hasil Reza pada semester ini. Jika nilainya belum juga lebih baik, saya mau tak mau cari pembina yang lebih sanggup." "Tetapi bu…" saya usaha memberikan argument dengan Bu Diana. "Biarlah Linda, saya harus ke studio saat ini! Saya berharap, kamu dapat membenahi nilai Reza secepat-cepatnya!" tegas bu Diana sekalian berakhir pergi keluar tempat tinggalnya. Kalimat bu Diana betul-betul membuatku mulai patah arang. Bagaimanakah cara gerakkan anak sebandel itu untuk belajar? Yang kutahu dia cuma tertarik sama games PlayStation dan koleksi film kepunyaannya, untuknya menggenggam buku pelajaran tentu lebih sulit dibanding berenang melewati samudra! Rasa patah semangat menyelimutiku saat saya memikirkan bagaimana mengongkosi kuliahku jika bu Diana meberhentikanku. Dengan lemas, saya kembali lagi ke kamar Reza untuk mengajarkan. Tetapi, sesampai di kamar, saya menyaksikannya ketawa terpingkal-pingkal saat saya masuk kamarnya. "Apa yang lucu?!" ketusku dengan muka masam. "Ingin dikeluarkan ya, Kak? Kasihaan deeeh!" ledeknya sekalian ketawa. Dengar olokan Reza telah lebih dari cukup buat membuat kemarahanku yang telah lama terkubur, meletus saat itu juga. "Kamu penginnya apa sich?! Kakak telah memberimu keterangan dan latihan-latihan, tetapi benar-benar tidak digubris!! Bagaimana nilaimu dapat bagus jika kamu tak pernah belajar!! Tiap hari yang kamu ketahui hanya main games atau bengong saja!!" gertakku pada Reza. Saya betul-betul berasa geram dan dimainkan oleh anak itu. Tetapi Reza cuma tersenyum dengar gertakanku itu. "Oke dech, jika Kakak penginnya demikian. Reza akan meminta Mami untuk cari guru baru. Kakak mencari saja siswa yang ingin menurut!!" Katanya dengan tinggi hati. Saat itu saya roboh ke lantai, air mataku menetes karena patah semangat. Saya harusnya bayar ongkos kuliahku bulan kedepan yang direncanakan akan kubayar dengan gajiku bulan ini. Jika saya dihentikan saat ini, bagaimana caraku untuk bayar uang itu? Mustahil minta kiriman uang dari keluargaku, saya tidak mempunyai famili di Jakarta dan apalagi tidak mungkin teman- temanku ingin pinjamkan uang untuk mahasiswi miskin sepertiku ini? Sebetulnya banyak mahasiswa yang tertarik padaku dan ingin jadi kekasihku. Bisa jadi saya pinjam uang pada mereka, tetapi saya tidak ingin jika harus berhutang budi dari mereka, bisa jadi itu jadi argumen mereka untuk memaksakanku jadi kekasih mereka. Pemikiran jika saya harus stop kuliah membuatku bimbang dan patah semangat. Aku juga menangis terisak di hadapan Reza. "Waah, justru nangis… Dasar gembeng!" ledek Reza saat melihatku menangis, tetapi itu tidak hentikan isak tangisku. Siswa Nakal 1 "Oke, oke. Saya ingin belajar, tetapi kakak harus mengikuti permintaanku, Oke?!" Reza mulai merayuku. "A…apa yang kamu ingin?!" jawabku sekalian terisak. "Pertama, kakak berdiri dahulu ya?" Reza menggenggam tanganku dan menolongku berdiri. Aku juga selekasnya bergerak bangun. Kusaksikan mata Reza terlihat menggerayangi lekuk badanku. Dia lalu jalan berputar mengelilingiku. Aku juga mulai resah menyaksikan tingkah anak itu. "Telah! Tidak boleh putar-putar terus-terusan! Kepala kakak pusing tahu!! Kamu penginnya apa sich?!" gertakku tidak sabaran. "Kak, Reza ingin tahu deh…" ungkapkan Reza. "Apanya?!" "Kakak itu cewek kan?" "Lalu mengapa? Bukanlah jelas sudah kan?!" jawabku kecewa. "Jika demikian, kakak punyai memek doong…" balas Reza dengan suara menghina. "Reza ingin tahu nih… Memek kakak serupa tidak ya, dengan memek cewek-cewek yang kerap kusaksikan di beberapa film porno?" lanjutnya dengan rileks. Oh, astaga! Seperti tersambar petir, saya betul-betul geram dengar perkataan Reza itu. Kepribadian anak ini betul-betul telah remuk benar-benar!! Bagaimana dapat ia bertanya hal semacam itu dimuka seorang gadis dengan rileksnya? Anak ini betul-betul telah terlalu batasan! PLAAK… Tanpa sadar kutampar pipi kiri Reza sampai anak itu jatuh ke lantai. Reza juga mendesah kesakitan. "Aduh, sakiit…" rintihnya perlahan. Ya ampun! Apa yang sudah kulakukan? Sebentar saya langsung tersadarkan, tetapi telah telat. Pukulanku telah terburu landing di pipi Reza. Menyaksikan Reza yang jatuh, aku juga berasa makin cemas. Selekasnya kuhampiri Reza yang mendesah di lantai. "Reza, Reza! Kamu tidak apapun kan?! Maaf ya, kakak tidak menyengaja. Maaf…" tanyaku kuatir. Saya usaha memegang tangan Reza, tetapi dia selekasnya menepiskan tanganku. "Pergi sana! Reza akan adukan kakak ke Mami!! Agar kelak kakak dituntut ke polisi!!" teriaknya. "Reza… Kakak meminta maaf ya? Kakak betul-betul tidak sengaja…" saya betul-betul cemas dengar teror Reza, yang memungkinkan jadi realita ingat keluarganya yang cukup terpandang. "Tidak mau! Pergi sana!! Nantikan saja sampai Mami pulang, Kakak tentu kulaporkan!" mengancam Reza sekali kembali. Reza selekasnya bergerak, akan keluar kamarnya. Saya betul-betul patah semangat dan ketidaktahuan. Permasalahan yang tiba mendekatiku silih ganti. Bagaimana ini? Awalnya, teror pemberhentianku telah diambang mata dan saat ini justru saya terancam dituntut oleh keluarga kaya ini. Pikiranku mulai buntet dan tanpa berpikir panjang kembali, kutarik tangan Reza untuk menghindarinya keluar kamar. "Nantikan Reza!! Kakak akan mengikuti keinginan Reza! Apa saja! Tetapi tolong tidak boleh adukan kakak ke bu Diana!" bujukku pada Reza. Langkah kaki Reza berhenti sesaat. Reza lalu melirik melihatku. "Betul nih? Kakak tidak berbohong kan?" tanyanya tidak yakin. "Iya, iya! Kakak janji! Tetapi hanya sekali ini saja ya!" jawabku patah semangat. "Oke dech jika demikian. Reza ingin saksikan memek kakak sekarang ini. " Perintahnya padaku. "Tetapi hanya saksikan saja ya! Tidak boleh beberapa macam!" "Iya, deeh…" jawab Reza senang. Saya lalu berdiri dimuka Reza, pelan-pelan kunaikkan rok putihku yang selutut di depan anak itu. sampai pada akhirnya rokku capai pinggul, memperlihatkan pahaku dan celana dalam pink berendaku dengan terang. Reza terlihat kagum saat menyaksikan celana dalamku yang tutupi selangkanganku. "Nantikan Kak! Tidak boleh bergerak dahulu!" perintah Reza tiba-tiba. Aku juga tidak punyai alternatif lain selainnya memperlihatkan celana dalamku di depan Reza. Hatiku campur baur saat menyaksikan mata Reza yang terlihat berbinar-binar kagum menyaksikan celana dalamku. Aku juga dapat dengarnya menelan ludah. Tentu ini pengalaman pertama kalinya menyaksikan celana dalam seorang gadis yang asli. Kurasa sepanjang inilah cuma menyaksikan celana dalam wanita melalui film pornonya saja. Dia terlihat grogi sekalian suka menyaksikan celana dalamku. Sementara jantungku berdegap kuat sekali saat ingat seorang anak kecil sedang memperhatikan celana dalamku dengan cermat. Mukaku saat ini tentu sudah lebih merah dari buah tomat yang masak karena malu. Reza melihat sesaat ke belakang sekalian menghela napas. Kurasa dia sangat grogi karena dari barusan memperhatikan celana dalamku pas dimuka mukanya. Tetapi, dia selekasnya kembali melihat menyaksikan celana dalamku dan ini kali kusaksikan tatapan matanya yang khusus memperhatikan bayang-bayang vaginaku dibalik celana dalamku. Tatapan matanya yang memperhatikan dengan cermat memberikan kesan yang aneh. Tidak pernah kusaksikan tatapan matanya seserius itu. Makin lama, kepalanya makin maju sampai masuk rokku dan nampaknya dia betul-betul nikmati saat memperhatikan celana dalamku. Saya bisa rasakan dengan benar-benar terang detak jantungku yang berdegap makin kuat. Saya berasa kebingungan kenapa jantungku dapat berdetak sekencang itu karena hanya Reza sedang memperhatikan celana dalamku? Aduuh… seandainya saja saya tidak menamparnya barusan, sesalku dalam hati. "Reza, telah ya… Kakak telah lelah nih…" bujukku pada Reza. "Belum kak. Kakak belum juga memenuhi janji kakak!" protesnya padaku. "Apalagi, sich, Reza?!" "Saya ingin menyaksikan memek kakak! Bukanlah barusan kakak janji untuk mengikuti kemauanku? Mari, membuka celana dalamnya donk kak!" pintanya padaku. "Tapi… tapi…" saya usaha cari argumen untuk menampik keinginan Reza, tetapi pikiranku buntet sama sekali. Memang betul barusan Reza sempat berbicara jika dia ingin menyaksikan kewanitaanku. Tetapi bagaimana juga, saya berasa sangat berkeberatan jika seorang anak kecil menyaksikan vaginaku yang selalu kujaga baik untuk suamiku di masa datang. "Mari, kak! Jika tidak saya akan memberikan laporan kakak ke Mami lho!!" gertaknya satu kali lagi. Saya sadar, saya mustahil lolos dari keinginan Reza. "Iya dech! Tetapi hanya sesaat saja ya!" gerutuku. Saat dengar kata ‘melapor ke Mami', saya telah kalah mutlak tidak dapat menentang atau menampik keinginan anak ini. "Oke dech!!" serunya dengan ria sesudah mendapatkan ijin dariku. Tanpa menanti lama, dia selekasnya merosotkan ke-2 segi celana dalamku dan turunkan celana dalamku sampai celana dalamku tergulung di pahaku. Saat ini, tanpa perlindungan apa saja, kewanitaanku terpajang terang di depan Reza yang sekarang mengubah perhatiannya ke vaginaku. Pemikiran dalam hatiku kacau. Apa yang sebetulnya kulakukan? Tidakkah bu Diana membayarku untuk mengajarkan les private anaknya? Tetapi realitanya saat ini, celana dalamku telah diambil turun oleh siswaku sendiri yang sekarang sedang repot memperhatikan kewanitaanku. Jika bu Diana ketahui ini, saya tidak paham apa yang hendak dilakukan padaku. Sekurang-kurangnya saya cukup untung karena bu Diana tidak ada di rumah sekarang ini, jadi saya tak perlu cemas akan ketahuan olehnya. "Waah, berbeda sekali dengan memek cewek-cewek di film porno. Memek kakak bersih ya! Tidak ada rambut- rambutnya!" puji Reza padaku. Sudah pasti! Saya paling jaga dan menjaga wilayah kewanitaanku sebagus mungkin. Saya selalu teratur bersihkan vaginaku dan cukur rambut kemaluanku. Tidak mungkin vaginaku disetarakan dengan vagina beberapa wanita di video porno yang jelas tidak dirawat secara teratur! Pikirku kecewa. "Hei, Reza. Cukup ya?" pintaku pada Reza. "Sesaat lagi, ya. Kak!" Ampuun! Saya betul-betul terjerat! Memperlihatkan kewanitaanku dimuka anak SMP telah lebih dari cukup untuk membuatku malu sepanjang umur! Saya tidak berani memikirkan jika ada orang yang menyaksikan ini. Tubuhku berasa panas dan keringatku mulai mengalir deras karena hanya kewanitaanku dilihat oleh Reza. Apa lagi ingat jika saya semestinya mengajarkannya dalam pelajaran, bukan justru memberikannya tontonan yang tidak patut semacam ini. "Waah… kok memek kakak lama-lama semakin basah sich?!" bertanya Reza mendadak. "Ah… Eh?!" tiba-tiba saya sadar dari lamunanku, saat tersebut saya baru mengetahui jika jemari telunjuk Reza telah sentuh bibir vaginaku. Ujung jemari Reza telah segera masuk sedikit di dalam lubang vaginaku dan memulai menggosoki bibir vaginaku yang telah basah karena limpahan cairan cintaku tanpa sadar. "AAH!!! Hei!! Stop, Reza!!!" saya betul-betul cemas menyaksikan jemari Reza di vaginaku itu. Saya takut jika keperawananku justru terenggut oleh jari-jari Reza. Tetapi Reza tidak stop. "Reza! Cukup, hei!! Bukanlah kamu janji cuma menyaksikan saja?!" protesku pada Reza. "Aargh! Bising! Diam saja! Jika tidak, kutusukkan jariku di dalam memek kakak dalam-dalam, pahami?!" gertak Reza padaku. Saya betul-betul takut. Reza memang menggenggam kendalian sekarang ini, ditambah dengan jarinya yang repot mainkan bibir vaginaku, gampang saja untuknya untuk memperawaniku dengan jarinya. Saya berpikiran dibanding saya disetubuhi jari-jari Reza, kemungkinan lebih bagus jika saya mengikuti tekadnya. Saya kembali menangis terisak, tetapi Reza tidak mempedulikan tangisanku, dia justru menggosokikan jarinya di selang vaginaku dengan perlahan. Saat tersebut saya tersentak sebentar rasakan kepuasan gosokan jemari Reza di vaginaku.
ABG Bokep Indo Anak Sekolah Masturbasi Panlok
Belum ada komentar dikirimkan
Nonton Bokep ABG Indo