Bokepan.org | Nonton Bokep ABG Indo
Nonton Bokep ABG Indo
Beranda 🔥 Trending
Bright Mode
Dark Mode
ABG Mahasiswi Creampie Bokep Indo Bokep Jepang Anak SMA Anak SMP Masturbasi Panlok Anak Sekolah Hijab Bispak SPG Perawan Gang Bang Skandal Selebgram Outdoor Bokep Barat Viral MILF Blowjob Anal JAV Uncensored Amateur Cantik Bokep Cina Cosplay
Kategori
Randomize Icon
Acak Video
Cewek cina memek mulus anak sekolah crot didalem
1.4K
0
1.00
2 months ago
Video ini sudah dilaporkan kalau video ini rusak.
Description :
Seperti inilah narasi sex semacam ini berawal, Fani menghempas bokongnya di sofa lalu duduk bersila sekalian menenggak air putih dari gelasnya. "Sudah usai belum?" tanyanya pada Emmi yang duduk di lantai kerjakan beberapa soal latihan matematika di meja ruangan tamu rumah Fani. "Sedikit kembali kok," jawab Emmi tanpa mengusung muka dari beberapa buku di depannya. Narasi Cabul Sama-sama Meraba Puting Toket Imut Gadis SMP Menceritakan Seks - Fani memperhatikan muka Emmi yang serius menuntaskan pekerjaannya. Meskipun memiliki rambut pendek cepak seperti lelaki, tetapi Emmi masih tetap tidak dapat sembunyikan kecantikan mukanya, yang didukung oleh badannya yang langsing dengan sepasang buah dada yang lumayan besar, berkembang bisa lebih cepat dibanding beberapa gadis kelas 1 SMP sepantarannya. Fani memang punyai argumen tertentu siap mengajarkan Emmi matematika di tempat tinggalnya mendekati ulangan umum ini. Meskipun jadi sasaran banyak cowok di sekolahnya, tidak satu juga mendapatkan sambutan dari Fani. Pasalnya gadis elok memiliki rambut panjang yang barusan berkembang remaja dan memulai memiliki keinginan seksual ini rupanya tidak tertarik ke musuh tipe, dia lebih menyenangi bersisihan dan bersinggungan dengan sama-sama gadis. Saat Emmi, adik kelas yang telah lama dia gemari ini minta Fani yang populer paling pandai antara siswa-murid kelas 2 untuk mengajarkannya matematika, Fani tidak sia-siakan peluang Emas ini. "Sudah nih!" ujar Emmi tiba-tiba, menyentakkan Fani dari lamunannya. Fani memandang Emmi yang mengacung buku di depannya sekalian tersenyum, lesung pipitnya tercetak demikian dalam di pipinya yang putih mulus itu, membuat mukanya jadi makin menggemaskan. Sekalian menyikat buku itu, Fani buang jauh pemikirannya yang melayang-layang kemanapun, "Sini saya check!" tegasnya. Nyaris usai Fani mengecek tugas "siswanya" ini saat tiba-tiba ibunya ada di ruangan tamu menerangkan jika dia akan susul ayah Fani ke kantor sekalian bawa adik Fani yang kecil, lalu disana langsung ke Sukabumi karena ada saudara mereka yang sakit keras. Fani disuruh jaga rumah baik bersama Iroh, si pembantu rumah tangga. Sudah terdidik berdikari semenjak kecil, Fani tidak berasa berat dengan kondisi ini. Tidak lama, ibu dan adiknya pergi naik taksi dan Fani juga menuntaskan mengecek latihan Emmi. "Cukup, hanya satu yang keliru. Lu cepat tahu ya, Em?" kata Fani. Emmi tersenyum malu dengar sanjungan ini, lalu pamit untuk pulang karena hari telah mendekati malam. "Eh, tidak boleh dahulu donk! Emanng yang keliru ini tidak mau direvisi dahulu? Sekaligus dech saya jelaskan kekeliruannya, agar lu tahu," kata Fani. "Tetapi entar saya pulang kemalemann, Fan," jawab Emmi kebingungan. "Begini saja. Lu telephone saja nyokap lu. Ngomong lu nginep di sini malem ini. Sekaligus nemenin saya," balas Fani. Meskipun suara bicaranya biasa-biasa saja, dalam hati Fani benar-benar mengharap Emmi menyongsong usulnya ini. "Kalau diberi, ye?" jawab Emmi membuat Fani riang. Emmi yang kagum pada kakak kelasnya yang elok dan pandai ini sebetulnya memang suka dibawa bermalam. Karena itu dia juga menghubungi ke tempat tinggalnya dan rupanya dibolehkan untuk bermalam. Dengan senang, Fani merengkuh leher Emmi, dan ajaknya ke meja makan untuk makan malam. Lengannya jatuh dengan rileks di dada Emmi saat lagi mereka jalan. Narasi Sex Bermotif Walaupun terlihat rileks, sebetulnya Fani benar-benar berdebar rasakan buah dada halus adik kelasnya ini bergesek-gesek dengan tangannya. Tetapi apa lacur, jarak tidak jauh membuat Fani mau tak mau melepaskan rangkulannya. Usai makan, mereka juga meneruskan pelajaran dengan serius, sampai Fani juga lupakan kesan nafsu singkat yang pernah ia alami. "Udeh dahulu ye, Fan?" pinta Emmi sesudah sekitaran 1,5 jam belajar, "Otak saya udeh butek nih!" sambungnya 1/2 meminta. "Iya dech. Saya sudah lelah," jawab Fani, "Yok ah!" ucapnya sekalian berdiri membenahi beberapa buku di meja makan. Mereka bergerak ke kamar Fani dan Emmi langsung menghenyakkan badannya di tempat tidur sementara Fani sendiri duduk di bangku meja belajarnya. Mereka mengobrol tidak pasti arah sesaat saat pada akhirnya arah percakapan entahlah mengapa mulai menyentuh ke yang peka. "Ooh, jadi lu sudah mens?" kata Fani, lalu diteruskan, "Jadi sudah suka cowok donk?" "Tetapi saya masih malas mencari kekasih. Cowok-cowok pada kasar sich! Tidak suka saya!" balas Emmi. Fani yang berasa mendapatkan angin langsung arahkan perbincangan. "Lha, saya kirain toket lu besar karena kerap dipegang-pegang ama kekasih lu." "Tidak kembali. Ini Memang dari sononya ini," jawab Emmi sekalian memandang buah dadanya, "Sepertinya sich Memang turunan, keluarga saya yang cewek toketnya Memang gede-gede." Fani yang mulai berdebar dengan arah perbincangan ini berasa mendapatkan jalan dan terus tekan. Dia buka kaosnya, tampilkan mini set tutupi buah dadanya yang kecil, meskipun terlihat mulai berkembang. "Sepertinya toket saya tidak gede-gede dech," katanya sekalian loloskan mini set dari dadanya, tampilkan putingnya yang warna coklat muda, "Saya ingin segede punyai lu, Em." Emmi terhenyak menyaksikan kakak kelasnya dengan rileks bertelanjang dada di depannya. Sepanjang umur dia tidak pernah menyaksikan wanita telanjang, bahkan juga ibunya sendiri.Fani meneruskan gempurannya. "Coba saksikan toket lu." Emmi makin terbelalak. "Ah, malu ah saya!" "Aduh, ngapain malu kembali! Kan tidak ada cowok," ujar Fani, "Mari membuka saja." Cukup kebingungan tetapi senang dengan perhatian si kakak kelas, Emmi juga pada akhirnya loloskan kaos dari badannya, tampilkan BH putih yang sembunyikan buah dadanya. Fani bergerak ke tempat tidur dan duduk ada di belakang Emmi, langsung raih dan melepas kait BH Emmi. Muka Emmi bersemu merah, apa lagi saat Fani melepaskan BH-nya lalu menarik lengannya, mengubah tubuhnya sampai sekarang mereka duduk bertemu di tempat tidur, sama bertelanjang dada. Emmi menunduk sementara Fani rasakan darahnya berhembus melihat panorama cantik sepasang buah dada memiliki ukuran 34 di hadapannya ini. Fani menelan ludah usaha mengontrol pengalaman seksual pertama kalinya ini. Dia menyaksikan muka Emmi yang menghindar contact mata dengannya. "Em, lu kok malu sich? Toket lu bagus kembali." Emmi melirik Fani, "Begini sich kecil, Fan. photomemek.com Kakak saya pakai BH nomor 36B." "Ya ia kan sudah kuliah," ujar Fani, "Untuk umur lu, toket lu tuch sudah besar." Muka Emmi makin memeras dengan hati malu bersatu senang akan sanjungan kakak kelasnya yang elok ini. Sementara di lain faksi, Fani sendiri sEmmikin berdebar dan membulatkan tekad meneruskan uji coba seksualnya. "Saya pegang, ya?" pinta Fani sekalian memandang Emmi. Gadis manis memiliki rambut cepak ini rupanya belum juga berani memandang Fani dan tidak memberikan jawaban apapun. Fani memandang Emmi tidak menampik dan selekasnya raih dada adik kelasnya ini. Emmi menggigit bibir. "Hi hi hi hi hi.." Emmi terkikik saat Fani mengelus-elus buah dadanya dengan jantung berdebar, "Geli, Fan!" lanjut Emmi kembali. "Saya ingin merasakan donk!" ujar Fani sekalian raih tangan Emmi dan membimbingnya ke dadanya. Emmi kembali menggigit bibir, tetapi tidak memberi perlawanan. Tangannya sentuh puting Fani dan dia juga gerakkan tangannya berputar meraba buah dada Fani. Emmi kagum saat dia melirik muka kakak kelasnya ini dan terlihat Fani pejamkan mata sekalian menggigit bibir. Terlihat sekali jika Fani benar-benar nikmati sentuhannya. "Nikmat ya, Fan?" bertanya Emmi 1/2 kebingungan, Fani cuma mengganggukkan kepala tanpa buka mata, "Coba lu raba saya kembali donk," pinta Emmi ingin tahu. Ke-2 gadis itu juga sama-sama meraba buah dada masing-masing sesaat. Terlihat Fani benar-benar nikmati kesan seksual pertama kalinya ini. Kulit telanjang mereka sama terlihat bergidik. Fani melepas tangannya dari dada Emmi, lalu menghela napas panjang, nikmati dengan segenap hati rangsangan nafsu pertama kalinya ini, sementara Emmi kembali terkikik geli. Fani bangun dan menarik lengan Emmi supaya ikutinya berdiri. "Lu ingin tahu tidak rasanya kalau kekasihan ama cowok?" bertanya Fani yang membuat Emmi kebingungan tidak pahami. Fani meneruskan, "Saya belom pernah. Kita coba yok?!" Emmi sEmmikin tidak memahami tujuan Fani, tetapi diam saja saat Fani membungkukkan tubuhnya dan langsung mengulum puting Emmi secara halus. Emmi tersentak dan langsung mundur sekalian menggerakkan kepala Fani, "Edan lu, Fan! Geli kembali! Saksikan tuch saya sampai bergidik!" ujar Emmi memperlihatkan semua kulit badannya yang mEmming berbintik-bintik bergidik. Masih tetap dalam status membungkuk, Fani melirik si adik kelas sekalian berbicara, "Namanya baru nyobain. Lu rasain saja dahulu. Kata beberapa orang nikmat." Fani merangkul pinggang Emmi dan menariknya merapat, sementara Emmi yang ketidaktahuan dengan pengalaman pertama kali yang untuknya benar-benar aneh ini tidak dapat menantang. Dengan jantung berdebar-debar penuh hati yang tidak dapat diterangkan dengan kalimat, Fani kembali tempelkan bibir imutnya yang basah itu pada puting Emmi dan secara halus mEmmisukkan puting warna gelap itu ke mulutnya. Dia mengulum puting Emmi secara halus sementara Emmi menggigit bibir meredam rasa geli luar biasa yang kembali membuat semua badannya bergidik. Tidak lama sampai Emmi rasakan rasa geli beralih menjadi hati berhembus yang tidak dia ketahui dan tidak dapat dia terangkan. Tiap hisapan Fani memberi sEmmicam hati tersetrum enteng yang nikmat dan lenguhan kecil lepas dari bibirnya tanpa teratasi, "Uhh.." Terkesiap dengar ini, Fani hentikan hisapannya dan bangun memandang Emmi, "Nikmat ya, Em?" tanyanya dengan polos dan ikhlas. Emmi tidak dapat menjawab, cuma mengganggukkan kepalanya. "Terang-terangan, saya suka juga sekali ngisepin pentil lu," lanjut Fani kembali, "Saya tidak dapat jelaskan hati saya, tetapi dasarnya nikmat sekali dech, terangsang sekali." Emmi kembali cuma menggangguk tidak dapat berbicara. Sekarang Fani menarik lengan Emmi dan mendudukkannya di tepi tempat tidur, sementara dia sendiri berlutut di lantai, "Saya terusin ya?" ucapnya halus. Tanpa menanti jawaban dari Emmi, Fani langsung kembali landingkan bibirnya di puting adik kelasnya yang ketidaktahuan itu dan kembali mengulumnya, ini kali dengan nafsu yang sEmmikin berkobar-kobar dalam dadanya sendiri. Dengan refleks, Fani mulai mEmmiinkan lidahnya pada puting Emmi, membuat Emmi terpekik ketahan sekalian tiba-tiba ke-2 tangannya mencekram kepala Fani. Tetapi ini kali Emmi tidak menggerakkan Fani. Kebalikannya dia justru seperti menarik kepala Fani supaya mengisap dan menjilat-jilati putingnya sEmmikin keras. Fani sendiri benar-benar nikmati nafsu yang sEmmikin meletus-ledak dalam dianya, ditambahkan reaksi Emmi yang membuat sEmmikin terangsang, sampai lidah dan bibirnya sEmmikin liar menjilat-jilati dan mengisapi puting Emmi. "Ohh.." Emmi mendesah tanpa dia ketahui. Fani juga melepaskan mulutnya dari buah dada Emmi, membuat kekesalan dan rasa kaget tebersit di muka Emmi. "Giliran donk, Em," kata Fani, "Sepertinya lu cicipin sekali. Saya kan ingin merasakan," sambungnya dengan hati penuh pengharapan dan mengantisipasi. Emmi tentu saja mEmmihami ini meskipun berasa benar-benar aneh harus mengisap buah dada sama-sama wanita, tetapi sesudah dia rasakan kepuasan dan rangsangan nafsu yang baru ini kali ia alami, dia mengetahui Fani pasti rasakan kepuasan yang serupa. Karena itu sekarang Fani duduk di tepi tempat tidur dan Emmi, tetap duduk di tepi tempat tidur, membungkukkan tubuh dan memulai mengulum dan mengisap puting Fani. "Ngghh.." lenguhan Fani langsung meletus demikian bibir basah Emmi mengisap putingnya yang kecil dan fresh itu. Mata Fani terpejam rapat sementara darahnya menggelegak oleh rangsangan dan kepuasan luar biasa yang baru ini kali ia alami. Tahu kakak kelasnya nikmati ini, Emmi sEmmikin santai dan meneruskan hisapan dan jilatannya pada puting Fani, bahkan juga sEmmikin lama sEmmikin liar dan garang, membuat Fani mau tak mau mencekram kepala Emmi dan merintih-rintih meredam nafsu, "Aaahh.. ahh.. Emm.. Nikmat Emm.." Emmi sendiri tidak menduga akan nikmati pengalaman ini, merengkuh badan Fani dan sEmmikin menjadi-jadi mengisapi puting Fani. "Ohh.. ohh.. ohh.. setop.. setop.. setop dahulu Em.. ohh.. Emm.." desah Fani. Kebingungan dan takut perbuatannya salah sampai Fani tidak lagi nikmati ini, Emmi stop menjilat-jilati puting Fani dan memandang kakak kelasnya yang tersengal-sengal dengan muka merah padam penuh birahi ini, "Mengapa, Fan? Tidak nikmat, ya?" bertanya Emmi kebingungan. "Edan lu! Nikmat sekali kembali," balas Fani, "Hanya saya terasa aneh nih, Em. Sepertinya celana dalam saya semakin basah dech." Emmi terbeliak sEmmikin kebingungan dengar itu. "Kemungkinan karena sangat enaknya saya kencing sedikit di celana kali," lanjut Fani sama tidak pahami. Fani segera bangkit berdiri dan melepaskan celana pendeknya, lalu meraba celana dalamnya, "Tuch kan! Benar basah!" tegasnya lalu dia mencium tangannya yang baru dia gunakan meraba selangkangannya itu, "Tetapi bukan kencing nih, Em. Tidak pesing tuch!" tutur Fani yang diteruskannya dengan loloskan celana dalamnya sampai sekarang dia betul-betul telanjang bundar berdiri di muka Emmi. Fani mengecek celana dalamnya dan memperoleh sedikit lendir bening menempel di celana dalamnya. "Ih, benar, bukan kencing, Em. Lendir nih!" ujar Fani sekalian melihat ke Emmi dan kaget menyaksikan Emmi terlihat duduk dengan resah sekalian menggerakkan pahanya dengan mata terlihat menerawang. "Naah, lu basah ya, Em?" sentak Fani mengagetkan Emmi! Langsung Fani menarik lengan Emmi sampai adik kelasnya ini berdiri di depannya, lalu secara cepat Fani merosotkan celana pendek sekalian celana dalam Emmi yang terlampau ketidaktahuan sampai tidak lakukan perlawanan. Fani menarik celana Emmi terlepas dari pergelangan kakinya lalu kembali berdiri dan memperlihatkan lendir bening yang ada pada bagian dalam celana dalam adik kelasnya yang elok itu. "Tuch saksikan, lu keluar lendirnya, Em." Emmi cuma bengong sementara Fani sEmmikin bernafsu dalam permainan seksual mereka yang rupanya berkembang jauh melewati prediksinya. Dengan tinggi lebih kurang 160-an cm dan berat sekitaran 45 kg, Fani dan Emmi betul-betul terlihat seperti sepasang gadis cilik, sama telanjang bundar, berdiri bertemu, menelusuri pengalaman seksual pertama mereka yang memusingkan, tetapi menarik sekalian memberikan kepuasan luar biasa. Fani melemparkan ke-2 celana dalam ke lantai sekalian mengulurkan tangannya ke selangkangan Emmi. "Ngghh.." Emmi melenguh panjang saat lagi struman nafsu luar biasa meletus dalam dianya saat jemari Fani sentuh bibir vaginanya yang basah itu. Lututnya langsung berasa lEmmis dan kepalanya berasa enteng melayang-layang. Narasi Seks Menyaksikan tEmminnya sempoyong, Fani langsung merengkuhnya dan membimbingnya kembali duduk di tempat tidur. Fani sendiri duduk dari sisi Emmi, merengkuh bahu Emmi dengan samping tangan lalu tangan satunya kembali meneruskan meraba vagina Emmi. Disertai desah nafsu Emmi yang demikian menggairahkan dalam telinga si kakak kelas, Fani menggosokikan jarinya secara halus di sejauh bibir vagina Emmi yang sEmmikin lama terlihat sEmmikin merekah, tampilkan daging merah muda fresh dan basah si perawan cilik. "Hhh.. Fan.. ohh.. ngghh.. mmhh.."Fani sEmmikin terangsang dan sEmmikin berani. Ujung jemari tengahnya dia masukan ke vagina Emmi dan dia gerakkan menggesek daging fresh vagina Emmi yang sEmmikin lama sEmmikin banyak keluarkan lendir bening itu dari bawah ke atas, sampai sentuh klitoris Emmi yang mulai muncul. "Ngk! Ahh.." Emmi terpekik menarik saat jemari Fani capai klitorisnya. Fani kaget tetapi sEmmikin terangsang menyaksikan reaksi nikmat si adik kelas. Muka menggEmmiskan Emmi terlihat sEmmikin menarik dengan mata terpejam nikmati sentuhan halus Fani. Menjaga kehalusan tekanannya, jemari Fani sEmmikin cepat menggesek vagina dan klitoris Emmi, membuat Emmi mendesah dan mendesah tidak teratasi. "Hhh.. hh.. ngh.. nghh.. mm.. mm.. ohh.." Sementara vagina Fani sendiri sEmmikin basah oleh lendir nafsu, Fani sEmmikin terangsang menyaksikan kepuasan yang pasti diperlihatkan Emmi di mukanya, dia juga sEmmikin berkobar-kobar dan membungkukkan tubuhnya dan kembali menjilat-jilati dan mengisap puting Emmi dengan liar dan bergairah. "Ohh.. ohh.. ohh.. Fann.. gillaa.. ohh.. ennak Fan.. mmhh.." "Sllrrp.. sllrrpp.. klcp.. klcp.. sllrrpp.. klcp.. mm.. klcp.. klcp.." "Mmm.. mm.. mm.. nghh.. nghh.. Faann.. Faann.. Fann.. oh.. oh.. oh.. oh.." Desahan dan rintihan Emmi yang disanggupi kepuasan sEmmikin kedengar liar dan tidak teratasi, sementara Fani yang sEmmikin terangsang menggesekkan jarinya sEmmikin liar di vagina perawan Emmi dan lidah dan bibirnya menyantap puting Emmi dengan makin bergairah.
ABG Anak SMA Anak Sekolah Panlok Creampie Bispak Cantik Amateur Bokep Cina
Belum ada komentar dikirimkan
Nonton Bokep ABG Indo