Bokepan.org | Nonton Bokep ABG Indo
Nonton Bokep ABG Indo
Beranda 🔥 Trending
Bright Mode
Dark Mode
ABG Mahasiswi Creampie Bokep Indo Bokep Jepang Anak SMA Anak SMP Masturbasi Panlok Anak Sekolah Hijab Bispak SPG Perawan Gang Bang Skandal Selebgram Outdoor Bokep Barat Viral MILF Blowjob Anal JAV Uncensored Amateur Cantik Bokep Cina Cosplay
Kategori
Randomize Icon
Acak Video
Jilboob colmek
-
a week ago
Video ini sudah dilaporkan kalau video ini rusak.
Description :
Dijakarta mulai musim hujan dapat diperhitungkan jika hujan tentulah banjir, macet ada di mana mana, selekasnya kuparkirkan gerobak tuaku. Terlihat lumayan banyak mobil yang pada tempat parkir. Menyaksikan keadaan semacam ini, kemungkinan sekitaran jam 12:00-14:00 (SAL/seks after lunch) dan 16:00-18:00 (tunggu sepinya jalan pulang) sebagai jam kencan, dan untuk tanggalnya sekitar 27-10 (tanggal terima gaji??). Selekasnya saya ke ruangan penerima tamu. "Selamat malam Pak," sapa Mbak Yxx, dengan senyumannya yang unik. "Malam ," jawabku. Menceritakan Seks - "Sama siapa Pak? Ini yang baru namanya Nxx," ucapnya dengan buka album yang berada di meja dan mengubah halaman paling akhir. Karena tiap saya kesini selalu saya beri panduan, jadi tanpa bertanya saya telah diberi seperti "special offer". Kuperhatikan mukanya. Memang lumayan elok, tetapi menyaksikan jam begini, umumnya yang elok cukup capek kerja. Karena sangat jumlahnya pesanan, sekurang-kurangnya telah dua atau tiga tamu. Jika satu tamu meminta tambah rerata sekali, maknanya minimum satu tamu 2x main. Kan tinggal kalkulasi, telah berapakah operation hour-nya? (walau sebenarnya jika sama pasangannya, untuk tambah saja argumen lelah, tetapi jika sama WP dapat semakin dari 1x.) Jika tamu lain peluang akan diberikan WP yang tidak bisa tamu dari siang tadi, tetapi karena saya memperoleh "special offer", jadi punyai "right" untuk pilih, meskipun WP yang kupilih dapat tamu banyak. "Mbak, ada tidak yang belum memperoleh tamu sepanjang hari?" tanyaku, untuk coba ‘menu' yang lain, yaitu pilih WP yang Masih memiliki tenaga dan penuh berharap untuk memperoleh tamu dari siang tadi. "Ada. Mbak Axx dan Mbak Rxx," jawabannya. "Ciri-cirinya bagaimana?" tanyaku kembali. "Jika Mbak Axx bisa pijat betulan dan sedikit berusia. Jika Mbak Axx orangnya kecil, Masih terbilang muda, Sunda, baik orangnya," jawabannya kembali. "Ya iya lah Mbak. Jika tidak baik ya ke Cipinang nemenin temannya Ricardo Gelael," jawabku. Si dia senyuman saja menyikapi candaku. "Ya telah, saya tentukan Mbak Rxx. Saya segera ke kamar yah," jawabku. Ia tidak bertanya kamar VIP atau reguler, karena ia sudah mengetahui "rutinitasku". Dengan diantarkan room boy saya segera ke arah kamar. Aduh, my favorite room telah berisi. Yah, mau tak mau bisa tersisa yang berada di sisi sudut belakang. Dengan Masih kenakan pakaian komplet saya duduk di bangku plastik biru yang ada. Room boy tutup gorden kamar. "Selamat malam Mak," sapa Mbak Rxx. "Malam Mbak," jawabku. Ia menempatkan perlengkapan standar-nya (sprei baru, handuk, sabun, kimono) ke arah tempat tidur, selanjutnya ambil sepatuku untuk ditempatkan di bawah gorden penutup kamar (sebagai pertanda jika kamar ini ada didalamnya/supaya tidak boleh salah kamar, karena sepatu sebagai id-room, jika kelak ke kamar mandi). Karena menempatkannya sekalian nungging, jadi rok span ketatnya tertarik. Terlihat celana dalam warna hijau muda. Selanjutnya menempatkan bokongnya di atas kasur. Sesaat sesudah duduk terlihat CD warna hijau muda bordiran pas pada bagian garis "penalti" banyak lubang seperti kain kasa, dan.. "Kesini sama temannya, Pak?" tanyanya, karena saya Masuk ke kamar bertepatan sama orang lain hingga saat panggil WP di kamar kerja kedengar dua nama WP. Ini sebagai "her_std_qst". "Tidak. Sendirian," jawabku, sekalian melihatnya. "Pernah kesini?" tanyanya kembali, sekalian buang muka, menyaksikan ubin, yang wujud dan banyaknya selalu sama. "Belum," jawabku. Sesekali bisa donk berbohong. Sekalian masih tetap melihatnya, rupanya ada pula toh Sunda yang tidak putih, dalam hatiku (bukan hitam, tolong diperbedakan). Terlihat mukanya Masih tinggalkan "beberapa sisa" kecantikannya. "Bagaimana Pak, ingin dipijat apa..?" tanyanya tidak dilanjutkan, tetapi justru tersenyum. Ingat di samping kamar kedengar suara mendesis dan suara seperti tepokan tangan (lebih persisnya beradunya empat pangkal paha.., kan seseorang punyai dua). "Saya ingin sama seperti yang di samping," jawabku. "Ya siapa takut," jawabannya selekasnya, dan turun dari tempat tidur mendekatiku untuk coba menggairahkanku. Wah, tidak sabaran nih!! "Tolong kamu duduk saja dahulu pada tempat tidur." Sekalian kuperhatikan mukanya, kali inilah melihat ke atas, yang terang tidak hitung jumlah kotak yang berada di plafon. Karena urat leher tertarik, terlihat jika ia tidak memakai bra, karena kelihatan putingnya. Kemungkinan ini taktiknya untuk memancing keinginan tanpa menyentuhku. Jika pemula kemungkinan dari barusan nih WP telah ditubruk. Tetapi ia bukan type togepasar; TOket GEde PAntat beSAR; saya sedikit kebingungan dengan badan wanita; jika bokongnya besar terkadang perutnya ikutan besar alias jibrut. "Kamu sudah memiliki keluarga?" tanyaku, keluar dech ‘my_std_qst' "Telah, tetapi pisah," tatapannya ke arahku, tetapi sesaat, ke bawah kembali. "Punyai anak," tanyaku kembali "Telah satu," jawabannya, dengan tatapan masih tetap ke bawah. "Usia berapakah?" tanyaku. "4 tahun" jawabannya. "Mmurmu berapakah?" tanyaku. "Dua puluh lima," jawabannya, sekalian melihatku kembali dengan sorot mata yang tenang tanpa ‘kedip', terlihat mukanya lebih tua dari umurnya, atau ingin memudakan umur, tetapi jika menyaksikan tatapan matanya dan ketenangannya tidak terlihat jika ia membohongiku. "Aslinya mana?" tanyaku. "Sukabumi," jawabannya. "Bagaimana ramai tamunya, kan tanggal muda," tanyaku kembali. "Yah ramai sich Mas, tetapi buat yang bisa tamu," jawabannya. "Jika kamu sendiri bagaimana," tanyaku "Saya baru bisa, ya Mas ini," jawabannya, wah untuk menunjukkan kita perlu check fisik, tetapi kelak!!, wah panggilan telah berbeda dari ‘pak' ke ‘Mas', membuatku menjadi lebih muda saja, atau membuat situasi jadi lebih dekat. "Kamu coba kesini," panggilku, ia mendekatiku dan usaha dekatkan buah dada ke mukaku sekalian tangannya meraih sakelar lampu, kemungkinan kurang PD. "Tolong, tidak boleh di matikan lampunya," ucapku, ia menarik kembali tangannya sesudah ia mundur beberapa centi, saya lihat di kantong blazer, samping kiri ada bodi lotion dan dua karet pelampung, habis memiliki bentuk di gulung dan seperti pelampung, sutra dengan warna millenium, samping kanan kotak kecil kosmetik dan selembar uang $20. "Mengapa karetnya koq membawa dua?" tanyaku. "Iya jika kelak tamunya meminta tambah kan tidak bolak kembali ke belakang," jawabannya. "Jika itu yang di botol untuk apa," tanyaku, seperti pemula. "Buat tamu yang tidak ingin main, Hanya dikocakin saja," jawabannya. "Kamu membawa uang, apa tidak takut jika kamu kembali ke belakang, terus diambil sama tamunya yang main-main." "Ya pasrah saja, Mas" "Untuk apa sich membawa uang, buat kembalian," candaku. "Dapat saja Mas, tidak buat pegangannya saja," jawabannya, seperti sembunyikan suatu hal.sebuah hal. "Ada yang sempat ngomong sama saya jika tidak bisa tamu, karena itu ditempatkan uang sebagai pancingan supaya memperoleh tamu, benar tidak sich?" tanyaku. "Nach, tuch sudah tahu tanya!" jawabannya sekalian tersenyum malu, wah jika getho tidak perlu check fisik, ini telah bisa dibuktikan, terkadang dengan guyon, kejujuran akan terlihat. "Mbak pernah ke pasar tradisionil tidak?" tanyaku, buat ngeledek ia. "Pernah lah, Masak ibu rumah-tangga tidak pernah," jawabannya, benar walaupun karier WP, masih tetap ia sebagai ibu rumah-tangga sekalian komandan rumah tangga(kan janda). "Pernah tidak saksikan pedagang yang berjualan jika belum laris, terus jika dagangannya laris pertama kalinya, apa yang ia lakukan?" tanyaku kembali. "Apa yah, yah senanglah," jawabannya. "Ya itu kan hatinya, tetapi yang ditangani apa," cecarku. "Tidak tahu," jawabannya singkat. "Ia akan memukul uang yang didapatkan ke semua barang dagangannya," jawabku. "Terus," tanyanya kebingungan. "Nach jika kamu apa yang kamu kerjakan, apa seperti pedagang barusan, memukul uang kesini, kesini, dan kesini," tanyaku sekalian menunjuk vagina, payudara, dan mulutnya. Tahu jika kujebak, ia tersenyum lebar dengan memperlihatkan gigi cantiknya dan terlihat lesung pipitnya. "Mas ini humoris," celetukannya. "Habisan kamu menempatkan uang di kantong sebagai pancingan seperti pedagang saja," ledekku. "Habis kata rekan-rekan getho, yah apa kelirunya saya ikutin saja," jawabannya. "Tetapi tidak apapun sich Mbak, saya pernah saksikan pramuniaga yang berjualan minyak wangi dan pakaian di sarinah block M pun demikian, tahu jika saya lihat, sang Mbak pramuniaga hanya senyuman, dan ngomong - penglaris Pak." "Mas, saya ingin kencing dahulu yah?" izinnya. "Bisa, tetapi saya turut yah?" tanyaku. "Bisa, mari" jawabannya. Sekalian bawa handuk dan sabun, kita keluar kamar. Saat ke arah kamar mandi, terlihat ada banyak WP dan tamu, kemungkinan Masuk atau keluar, ada banyak WP yang menyapaku (wah dibongkar dech bohongku barusan). Sesudah Masuk ke kamar mandi dan tutup gorden plastik.. "Ucapnya tidak pernah, koq Mbak Mxx, Mbak Ixx dan Mbak Exx, mengenal sang Mas" katanya dengan tenang dan perlahan, dan merosotkan CD-nya, bagus ia negor tidak di muka tamu atau WP, meskipun WP Masih mempunyai norma. Untuk tutupi suara desis melengking air kencing yang keluar (seperti turbocharger-nya ferrari/mc larren) ia menyirami shower ke vaginanya. Yang membuat saya menanyakan dalam hati, kenapa status kencing dan merosotkan CD-nya koq tidak bertemu atau membelakangiku? Malu atau ada yang tertutupi? Sesudah usai kencing, CD-nya tidak digunakan tapi diapit di ketiaknya? (wah jika getho saya harus hentikan rutinitasku mencium ketiak, jika rupanya kerap dibikin njepit CD! !) "Mas, saya kan malu kencing koq di lihatin," ucapnya. "Yah telah usai, baru complain!" jawabku. "Habis kepingin, Mas tidak kencing," katanya. "Iya dech sekaligus diberisihin," jawabku, sekalian melepaskan CP+CD dan kugantungkan di tembok, kemudian aku juga kencing, ia ngelihatin punyaku, yah karena kembali kencing yah kembali menjadi kecil (walau sebenarnya telah saksikan vaginanya) Sesudah usai kencing, ia menyirami sama air shower sekalian atur ke dua keran supaya memperoleh air hangat, kemudian dikasih sabun rudal dan sekelilingnya terlihat rudalku alami peralihan volume karena sentuhannya, busa sudah tutupi rudal dan bulu-bulu lebatnya, selanjutnya diambil shower untuk menyiram rudalku dan.. "Aduh.." teriakku perlahan. "Maaf Mas.." jawabannya sekalian selekasnya arahkan pancuran air shower ke tembok dan memutar keran air panas. "Mbak jika tujuannya bersihkan kuman tidak boleh merontokkan buluku donk, memang punyaku seperti ayam potong, ingin dibubutin bulu-bulunya!" tegurku. "Iya dech, air showenya kan panas sendiri," jawabannya. "Tetapi dicoba dahulu donk pada tangan janganlah lekas tembak ke piranti lunakku," jawabku tidak mau kalah. "Iya dech, yok ke kamar," rayunya. Nach kebingungan dech lupa membawa kimono, masak gunakan celana kembali, yah telah saya gunakan handuk plus pakaian, dan celana ia yang membawa, sementara CD-nya masih tetap di ketiak? Sesudah Masuk kamar, saya selekasnya melepaskan pakaian dan tidur, koq ia belum tiba, walau sebenarnya ia kan di belakangku barusan, tidak lama ia tiba dan melepaskan kaosnya, terlihat payudara tanpa bra sekitaran 34 tanpa bra (betulkan my preview), photomemek.com selanjutnya melepaskan roknya, oh ya lupa kan tidak ada persetujuan, saat sebelum lebih jauh lebih bagus kita membuat LOI dahulu sekalian "bobo" berdua. "Jika seperti pada samping berapakah biayanya?" tanyaku. "Umumnya $150 ada pula yang memberi $200," keluar dech harga penawaran tanpa potongan harga dan ppn+pbm+pph. "Jika gunakan mulut berapakah?" "$100" jawabannya singkat. "Jika gunakan krim," tanyaku kembali. "$50, Mas reporter yah, tanya mulu kapan mulai," jawabannya. "Tidak getho daripada kelak kamu protes, jika getho $150 itu 2x donk, kan karetnya ada dua," ledekku. "Nikmat saja, yah tidak lah, jika tambah yah jadi $200," jawabannya. "Jika getho saya imbuhnya saja dech, kan Hanya $50 selisihnya," ledekku kembali. "Dasar, penginnya yang murah," jawabannya. "Ya kan konsumen mencari yang nikmat dan murah, itu wajar Mbak.." jawabku. "Emangya saya apaan," jawabannya ketus, wah dapat emosi nih ia, harus selekasnya dinetralisir. "Sorry, saya bergurau, ya telah saya mengambil yang $150 tidak main tetapi tambah.." "Koq demikian," jawabannya, sekalian bibirnya cukup monyong, saya tersenyum. "Mengapa tertawa," tanyanya. "Tidak kamu seperti Leysus," jawabku. "Apes" sesudah LOI disetujui mulai saya tidur miring, dan kedengar lagu India yang sedang terkenal, wah jarang-jarang lho PPT gunakan lagu India, jangan-jangan special order dari pengunjung. "Mbak tahu tidak judul lagu ini?" tanyaku. "Kuch kuch hota hai" jawabannya. "Salah, yang betul kucek kucek kutange (k3)" jawabku sekalian ngucek payudaranya, sepintas kebayang muka penyanyinya 1D dan 1hraff, jika membayangkan 1D kan bibirnya ada kumis minimnya tuch, tetapi tidak jamin jika showroom-nya berkumis lalu bengkelnya lebat, peluangnya yang besar ialah bayangin wujud/diameter mulut/bibirnya nach kurang lebih, tahu kan yang saya tujuan. "Mas ini humoris, tenang, bisanyanya sukai main ‘keras' yah?" "Tidak , tidak boleh saksikan performa, donk" Sesudah jemu k3, "Mas hirup donk, saya cepat terangsang jika disedot," perintahnya untuk mengisap payudaranya. "Tidak ah," jawabku. "Mengapa, buruk yah?" tanyanya, wah bagaimana langkah jawabannya supaya ia tidak tersinggung. "Tidak saya masih kecilnya sudah bosen, sepanjang 3 tahun, pagi-siang sore-malam, jadi lainnya saja," jawabku asal, buat yang kerap hirup "susu", kemungkinan kecilnya minum susu formulasi, karena itu ingin cari info bagaimana sich rasanya hirup susu ASI. Selanjutnya saya turun, kusaksikan bulu-bulu bawahnya seperti dicukur, disisakan sisi atas garis penalti dan panjang dan kasar, memiliki bentuk seperti rambut atasnya david tua atau don king. "Mengapa, koq dicukur?" tanyaku. "Habis lebat sekali, terkadang jika kembali main sukai turut masuk, khan jadi cukup sakit"jawabannya, terlihat cukup hitam disekitaran sisi luar, kelihatannya tinggi freq ML-nya, dari wujud lipsnya terlihat jika ini hari belum bungkusukan rudal (maknanya betul ia tidak berbohong donk) saya coba menguakkan ke-2 pahanya untuk menyaksikan wujud vaginanya lebih dalam, rupanya betul ia pernah melahirkan, ada sisa jahitan lembut di antara vagina dan anus, dan terlihat dalam lubangnya banyak tonjolan daging kecil-kecil, kucoba masukkan jariku, rupanya masihlah kering, memiliki arti ia belum ON. "Eh eh" erangnya. "Tidak boleh akting, saya suka yang alami.." tegurku, ia diam, dan memulai me-massage buah dadanya sendiri (kelihatannya ia type DIAN; DIapain Saja eNak), sekalian lidahnya melet masuk keluar, saya coba me-Massage clitnya, ia mulai goyang perlahan-lahan, dan lama-lama semakin cepat, tapi "wet-sensor"-ku menjelaskan masih "low", saya coba meraba bokong sisi belakang, berasa ada permukaan yang tidak rata (seperti kerak; pantes barusan kencingnya tidak berani memunggungiku, takut terlihat kekurangannya) Lama-lama "wet-sensor" mulai ke status "med" tetapi vag-temp koq over-heat, wah tidak benar nih mesin, apa radiatornya bocor?, apa oli tidak naik?, wah seharusnya kuhentikan (jika tidak percaya atau tidak sreg, mendingan tidak boleh terusin), Karena di antara temperatur dan lendir tidak sama sesuai jangan-jangan ada stoned-angelina, wah saya ingin scan, tidak membawa MC Afee, mau tak mau ctrl+alt+del. "Mbak saya sudah tidak tahan nih, di oral saja, ingin tidak," mau tak mau gunakan jalan singkat, walau sebenarnya voltage rudalku tidak siap luncur, tetapi daripada ‘contaminated" ‘mendingan dari pada'. Ia coba mengisap, waow, hisapannya sampai kempot, kuangkat rambutnya supaya saya bisa menyaksikan kerjanya, matanya melihat ke atas (ke arahku) sekalian terus mengisap dan lidahnya bermain dalam mulutnya, karena bantal kutekuk jadi dua supaya kepalaku semakin tinggi, hingga tanganku mulai lakukan kuch kuch hota hai kembali. "Mas jika ingin keluar ngomong yah!" ucapnya, tujuannya janganlah sampai dikeluarin di mulut. "Memang mengapa sich. Khan banyak proteinnya kata Dokter," kataku. "Iya tetapi jika sampai tertelan, kelak Mas tidak dapat ngelupain saya lho.." ucapnya, dapat saja ia menghindari, pantes banyak suami serong (bahasa lembutnya nyeleweng, penghalusan orba) masalahnya sang istri tidak mau nelan sperma. "Ya telah jika ingin keluar kelak kuberi tahu," jawabku. Makin lama ia lelah , bagaimana tidak lelah, nungging, ngisap sampai kempot, terus kepala turun naik, dan yang paling penting, ia tahan napas (asal janganlah lupa tidak napas saja). "Fokus donk Mas," keluhnya, wah saya jadi ingat taman lawang saja, mau tak mau saya fokus, kasihan ia, keningnya mulai berkeringat. Dan tidak lama kedengar suara paha beradu di samping kamar dibarengi desahan, yang membuatku bingung ialah kecepatannya, "pak-pak-pak", tempo-nya tidaklah sampai satu detik, luar biasa nih lelaki, dan lenguhan sang wanita yang hendak capai O, jika tidak salah barusan telah keluar, memiliki arti ini ronde ke-2 nya, tetapi dengan kecepatan semacam itu, lumayan tangguh latexnya. Lumayan lama irama "pak-pak-pak", membuatku lebih terangsang, dan.. "Pak, dilepaskan saja karetnya," pinta sang WP (pada akhirnya saya tahu jika ia sang Mbak Mxx, karena lenguhannya yang unik, telingaku peka yah dapat ketahui WP cukup dengan lenguhannya, semestinya saya kerja di kapal selam, agar dapat ketahui tipe kapal yang lain). Tidak berapakah lama, kedengar suara lenguhan lenyap dan suara ‘pak' lenyap, dan aku juga tersadarkan jika saya ingin keluar. "Mbak saya ingin keluar," ujarku, ia selekasnya melepas dari mulutnya dan mengocaknya. "Sudah Mbak agar saya saja, Mbak tidur telentang saja," jawabku, ia ikuti apa yang saya suruh, saya membuka lebar-lebar pahanya, dan terlihat vaginanya membuat huruf "O" dan merah seperti lampu lalu-lintas. "Mas Masukkan donk, saya ingin sekali nih," ucapnya Saya seakan-akan ingin masukkan rudalku, sekalian terus kustimulasi, cocok telah dekat ke lubangnya (belum masuk), kutembakkan cairanku pas masuk ke vaginanya, karena ia lakukan pergerakan kejut dalam vaginanya tidak lama keluarlah cairanku.
ABG Bokep Indo Masturbasi Panlok Bispak Hijab
Belum ada komentar dikirimkan
Nonton Bokep ABG Indo