Bokepan.org | Nonton Bokep ABG Indo
Nonton Bokep ABG Indo
Beranda 🔥 Trending
Bright Mode
Dark Mode
ABG Mahasiswi Creampie Bokep Indo Bokep Jepang Anak SMA Anak SMP Masturbasi Panlok Anak Sekolah Hijab Bispak SPG Perawan Gang Bang Skandal Selebgram Outdoor Bokep Barat Viral MILF Blowjob Anal JAV Uncensored Amateur Cantik Bokep Cina Cosplay
Kategori
Randomize Icon
Acak Video
Tante Reni Ngewe Di Kost Show Bling2
362
0
5.00
2 months ago
Video ini sudah dilaporkan kalau video ini rusak.
Description :
Panggil saja saya Vino, panggilan setiap hari walau saya bukan anak buncit. Saya siswa SMU kelas 3. Saya tinggal dalam suatu perumahan di Jakarta. Wilayahnya mirip-mirip di PI dech, tetapi bukan perumahan "or-kay" kok. Sekitaran beberapa bulan kemarin, rumah kontrak kosong di samping kiri rumahku dihuni oleh keluarga baru. Awalannya mereka jarang-jarang terlihat, tetapi sekitardua minggu selanjutnya mereka telah cepat dekat dengan tetangga?tetangga sekitaran. Rupanya penghuninya seorang wanita dengan perkiraanku umurnya baru 30-an, anak wanitanya dan seorang PRT. Nama selengkapnya saya tidak paham, tetapi nama panggilannya Tante Caca.Anaknya namanya Vivi, sepantaran denganku, siswi SMU kelas 3. Rupanya Tante Caca ialah janda seorang bulekalau tidak salah, asal Perancis. Sikapnya friendly, mudah dibawa bercakap. Tetapi, yang paling penting ialah performanya yang "mengundang". Rambutnya ikal di bawah telinga. Kulitnya coklat muda. Bodynya tidak langsing tetapi jika disaksikan terus, justru jadi seksi. Payudaranya besar. Taksiranku sekitaran 36-an.Yang membuat mengundang ialah Tante Caca kerap menggunakan pakaian sleeveless dengan celana pendek sekitaran empat jemari dari lutut. Jika duduk, celananya terlihat sempit oleh pahanya. Mukanya tidak elok?elok sangat, muka keunikan Indonesia, type yang disuka beberapa orang bule. Seperti bodynya, mukanya jika jadi perhatian, apa lagi jika pakaiannya cukup "terbuka", justru jadi muka?muka tempat tidur getho dech. Dari langkah berpakaiannya saya menduga jika Tante Caca ituhypersex. Jika Vivi, kontradiksi ibunya. Mukanya elok Indo, dan kulitnya putih. Rambutnya hitam kecoklat-coklatan, iris tepi sebahu. Walau buah dadanya tidak besar, kesesuaian bajunya malah membuat Vivi jadi seksi. Kelihatannya saya diserang sindrom tetangga samping nih. Beberapa hari berakhir, gairahku pada Tante Caca makin bergolak hingga saya kerap ngotot bersembunyi dibalik semak-semak, masturbasi sekalian melihati Tante Caca jika sedang di luar rumah. Tetapi pada Vivi, gairahku cuma sedikit, itu karena kecantikannya dan kulit putihnya. Gairah besarku terkadang membuatku ingin memperlihatkan batangku di muka Tante Caca dan masturbasi dimuka ia. Pernah kadang-kadang kujalankan niatku itu, tetapi cocok Tante Caca melalui, cepat-cepat kututup "anu"-ku dengan pakaian, karena takut mendadak Tante Caca melapor sama ortu. Tetapi, realitanya berlainan. Tante Caca malah menyapaku, (dan kusapa balik sekalian tutupi kemaluanku), dan cocok di muka pagar tempat tinggalnya, dia tersenyum sinis yang mengarah ke senyum nakal. "Ehem.. hmm.." dengan sorotan mata nakal juga. Sesaat saya terbengong dan menelan ludah, dan justru tambahnafsu. Selanjutnya, di suatu waktu, kuingat sekali itu hari Rabu. Saat saya pulang kuliah dan ingin buka pagar rumah, Tante Caca panggilku secara halus, "De, sini dahulu.. Tante buatkan makanan nih buat papa-mamamu." Langsung kujawab, "Ooh, iya Tante.." Napasku langsung mengincar, dan dag dig dug. 1/2 batinku takut dan ragu, dan separuhnya kembali malah memerintah agar "ajak" Tante Caca. Tante Caca menggunakan pakaian sleeveless hijau muda, dan celana pendek hijau muda juga. Sesudah masuk ke kamar tamunya, rupanya Tante Caca cuma sendirian, ucapnya pembantunya kembali berbelanja. Kondisi itu membuatku makin dag dig dug. Mendadak tante panggilku dari arah dapur, "De, sini nih.. makanannya." Memang betul sich, ada banyak piring makanan di atas baki telah Tante Caca atur.Saat saya ingin mengusung bakinya, mendadak tangan kanan Tante Caca mengelus pinggangku sementara tangan kirinya mengelus punggungku. Tante Caca lalu rapatkan mukanya di pipiku sekalian berbicara, "De, mm.. kamu.. nakal yah rupanya.." Dengan tergagap-gagap saya bicara, "Emm.. ee.. nakal bagaimana sich Tante?" Jantungku lebih cepat berdegap. "Hmm hmm.. berpura-pura tidak inget yah? Kamu nakal.. ngeluarin titit, sudah getho ngocok-ngocok.."Tante Caca melanjutkan bicaranya sekalian meraba-raba pipi dekat bibirku. Kontan saja saya lebih gagap plus terkejut karena Tante Caca rupanya ketahuinya. Tersebut penyebabnya ia tersenyum sinis dan nakal saat itu. Saya lebih gagap, "Eeehh? Eee.. itu.." Tante Caca langsung menggunting sekalian berbisik sekalian terus mengelus pipiku serta bokongku. "Kamu ingin yah sama Tante? Hmm?" Tanpa banyak omong-omong kembali, tante langsung mencium ujung bibir kananku dengan sedikit sentuhan ujung lidahnya.Rupanya betul perkiraanku, Tante Caca hypersex. Saya tidak ingin kalah, kubalas segeraciumannya ke bibir tebal seksinya itu. Lantas kusenderkan diriku di tembok samping wastafel dan kuangkat pahanya ke pinggangku. Kecupan Tante Caca benar-benar erotis dan bertempo cepat. Kurasakan bibirku dan beberapa pipiku basah karena dijilati oleh Tante Caca. Pahanya tadi kuangkat sekarang menggesek-gesek pinggangku. Karena erotisnya kecupan Tante Caca, gairahku jadi bertambah. Kumasukkan ke-2 tanganku ke balik pakaiannya di punggungnya seperti merengkuh, dan kuelusi punggungnya. Saat kuelus punggungnya, Tante Caca mendangakkan kepalanya dan terengah. Kadang-kadang tanganku berkenaan tali BH-nya yang selanjutnya lepas karena gesekan tanganku. Selanjutnya Tante Caca mengambil bibirnya dari bibirku, mengakhiri kecupan dan ajakkuuntuk ke kamarnya.Kami cepat-cepat ke kamarnya karena benar-benar bergairah. Saya sampai tidak memerhatikan wujud dan isi kamarnya, langsung direbah oleh Tante Caca dan melanjutkan kecupan. Status Tante Caca ialah status senggama kegemaranku yakni nungging. Kecupannya betul-betul erotis. Kumasukkan tanganku ke celananya dan aku segera mengelus belahan bokongnya yang nyaris berkenaan belahan vaginanya. Tante Caca yang hyper itu langsung menanggalkan kaosku dengan cukup cepat. Tetapi kemudian ada episode baru yang belum pernah kusaksikan baik di film semi atau di BF mana saja. Tante Caca meludahi dada abdomen-ku dan menjilat-jilatinya kembali. Kadang-kadang saya berasa seperti nyeri ketikalidah Tante Caca berkenaan pusarku. Saat saya coba mengusung kepalaku, kusaksikan sisi leher kaos tante Caca kendor, hingga buah dadanya yang bergoyang-goyang kelihatan terang. Selanjutnya kupegang pinggangnya dan kupindahkan tempatnya ke bawahku. Lantas, kulucuti kaosnya dan beha nya, kulanjutkan mengisapi puting payudaranya. Terlihat Tante Caca kembali mendangakkan kepalanya dan terengah kadang-kadang panggil namaku.Sekalian terus mengisap dan menjilat-jilati payudaranya, kulepas celana panjangku dan celana dalamku dan kubuang ke lantai. Rupanya cocok kupegang "anu"-ku, telah ereksi dengan tingkat maksimal. Benar-benar keras dan saat kukocok-kocok kadang-kadang berkenaan dan menggesek urat-uratnya. Tante Caca juga melepaskan celana-celananya dan mengelusi bulu-bulu dan lubang vaginanya. Dia mengantongi sedikit mani dari vaginanya dan masukkan jari-jari itu ke mulutku. Aku segera turunkan kepalaku dan menjilat-jilati wilayah "bawah" Tante Caca. Rasanya cukup seperti asin-asinditambah kembali ada cairan yang keluar lubang "anu"-nya Tante Caca. Tetapi tetap saya menikmatinya. Di tengah-tengah nikmatnya menjilati, ada suara seperti pintu terbuka tetapi ikut terdengar tidak demikian terang. Saya takut kedapatan oleh pembantunya atau Vivi. Sesaat saya stop dan bicara sama Tante Caca, "Eh.. Tante.." Rupanya tante malah melanjutkan "episode" dan berbicara, "Ehh.. bukan siapa saja.. egghh.." sekalian mendesah. Statusku sekarang di bawah kembali dan saat ini Tante Caca sedang mengisap "lollypop". Ereksikusemakin maksimal saat bibir dan lidah Tante Caca sentuh beberapa bagian batangku. Tante Cacamengulangi episode meludahi kembali. Ujung penisku diludahi dan sekujurnya dijilati perlahan-lahan. Pikirkan, bagaimana ereksiku tidak lebih maksimal?? Tidak lama, Tante Caca yang semula nungging, tukar status berlutut di atas pinggangku. Tante Caca berniat lakukan senggama. Saya sempat terkejut dan bengong menyaksikan Tante Caca dengan perlahan-lahan menggenggam dan arahkan penisku ke lubangnya seperti film BF saja. Tetapi sesudah ujungnya masuk ke lubang senggama, kembali saya seperti nyeri khususnya pada bagian pinggang dan selangkanganku di mana peristiwa itusemakin menambahkan gairahku.Tante mulai menggoyahkan badannya dengan arah atas-bawah awalannya dengan perlahan-lahan. Saya berasa begitu nikmat walau Tante Caca tidak virgin. Dalam lubang itu, saya berasa adacairan hangat di sekujur tangkai kemaluanku. Sekalian kugoyangkan tubuhku, kuelus pinggangnya dan kadang-kadang buah dadanya kuremas-remas. Tante Caca mengelus-elus dada dan pinggangku sekalian terus bergoyang dan melihatiku dengan tersenyum. Karena mungkin gairah yang besar, Tante Caca bergoyang cepat sekali tidak teratur entahlah itu mundur-maju atau atas bawah. Hingga kadang-kadang saya dengar suara "Ngik ngik ngik" dari kaki tempat tidurnya. Karena bergoyang cepat sekali, badan Tante Caca berkeringat. Selekasnya kuelus tubuhnya yang berkeringat dan kujilatitanganku yang penuh keringat ia itu.Lalu tempatnya ganti kembali, jadi saya bertumpu di ujung tempat tidur, dan Tante Caca menempati pahaku. Jadi, saya dapat gampang menciumi dada dan payudaranya. kujilati badannya yang masih tetap sedikit berkeringat itu, lalu saya menggesekkan badanku yang sedikit berkeringat kedada Tante Caca. Tidak kupikirkan saat itu jika yang kujilati ialah keringat karena gairah yang terlampau meletus. Tidak lama, saya berasa akan ejakulasi. "Ehh.. Tante.. uu.. udaahh.." Belum saya menuntaskan kata-kataku, Tante Caca telah 1/2 berdiri dan nungging di depanku. Tante Caca mengelus-elus dan mengocak penisku, dan mulutnya telah ternganga dan lidahnya menjulur siap terima semprotan spermaku. Karena kocokan Tante Caca, saya jadi ejakulasi. "Crit.. crroott.. crroott.." rupanya semprotan spermaku kuhitung sampai sekitaran 7x di mana tiap kencrotan itu keluarkan sperma yang putih, kental dan banyak. Kadang-kadang capaian kencrotannya panjang, dan berkenaan rambut Tante Caca. Kemungkinan ada pula yang jatuh ke sprei. Tepat sekali film BF. Kusaksikan muka Tante Caca telah penuh sperma putih kental punyaku. Tante Caca yang memanghyper, mengantongi spermaku baik dari mukanya atau dari tersisa di sekujur batangku, dan masukkan ke mulutnya. Kemudian, saya berasa benar-benar lemas. Staminaku terkuras oleh Tante Caca. Aku segera tiduran sekalian merengkuh Tante Caca sementara penisku masih tegak namuntidak sekuat barusan. Sekitaran satu minggu berakhir sesudah ML sama Tante Caca. Siang itu saya sedang berada di rumah cuma bersama pembantu (orang tuaku pulangnya malam atau sore, adikku sedang sekolah). Sekitaran jam satu-an, saya yang duduk di bangku malas teras, menyaksikan Tante Caca ingin pergi entahlah ke mana dengan mobilnya. Kusaksikan Vivi tutup pagar dan dia tidak melihatku. Sekitaran 10 menitkemudian, telephone rumahku berdering. Saat kuangkat, rupanya Vivi yang menghubungi. Suara suaranya cukup ketus, menyuruhku ke tempat tinggalnya. Ucapnya ada yang ingin dibicarakan.Di kamar tamunya, saya duduk bertemu sama Vivi. Mukanya tidak seperti umumnya, kelihatan jutek, judes, dan lain-lain. Sehubungan ia semacam itu, saya menjadi salah tingkah dan kebingungan ingin bicara apa.Tidak lama Vivi mulai berbicara lebih dulu dengan suara ketus kembali, "De, saya ingin bertanya!" "Hah? Tanya apaan?" Saya terkejut dan cukup dag dig dug. "Loe waktu pekan kemarin ngapain sama nyokap saya?" Ia tanya langsung tanpa basa-basi. "Ehh.. minggu lalu? Kapan? Ngapain emangnya?" Saya berpura-pura tidak paham dan ngerinya ia ingin memberikan laporan pada orang tuaku. "Aalahh.. loe tidak perlu belagak bego dech.. Emangnya saya tidak tahu? Saya baru pulang sekolah, saya simak sendiri pakai mata kepala saya.. saya lihat dari pintu, loe kembali make nyokap saya!!" Saat itu juga aku segera terkejut, bengong, dan tidak paham sedang ingin ngapain, tubuh telah seperti mati rasa. Batinku berbicara, "Mati saya.. bisa jadi saya ditendang dari rumah nih.. nama baik ortu saya dapat jatoh.. mati dech saya."Vivi juga masih melanjutkan perkataannya, "Loe napsu sama nyokap saya??" Vivi selanjutnya berdiri sekalian tolak pinggang. Matanya memandang benar-benar tajam. Saya hanya dapat diam, bengong tidak dapat bicara apapun. Keringat di leher mengalir. Vivi mendekatiku yang cuma duduk saja kaku beku perlahan-lahan tetap dengan tolak pinggang dan tatapan tajam. Pipiku siap terima pukulan atau tonjokan tetapi untuk hal ia akan menyampaikannya pada orang tuaku dan saya ditendang tidak dapat saya pecahkan. Tetapi, satu kali lagi realita benar-benar berlainan. Vivi yang menggunakan kaos terusan yang serupa daster itu, malah buka ikatan di punggungnya dan membukakaosnya. Rupanya dia tidak kenakan beha dan celana dalam . Maka di depanku ialah Vivi yang bugil. Takutku sekarang lenyap tetapi bingungku semakin. "Kalau getho, loe ingin kan sama saya?" Vivi langsung dekatkan bibir seksi-nya ke bibirku. Celana pendekku terlihat kuat pada bagian "anu".Sekarang yang kurasakan bukan kecupan erotis seperti kecupan Tante Caca, tetapi kecupan Vivi yang halus dan romantis. Begitu enaknya kecupan dari Vivi. Aku segera merengkuhnya halus. Badan putihnya betul-betul mulus. Bulu-bulu vaginanya sepintas kusaksikan coklat gelap. Selekasnya kulepas celana-celanaku dan Vivi buka kaosku. Cukup lama Vivi menciumiku dengan statusmembungkuk. Kukocok-kocok penis besarku itu sedikit-sedikit. Aku segera membisikkannya, "Nit, kita ke kamarmu yok..!" Vivi menjawab, "Ayoo.. biarlebih nyaman." Vivi kurebahkan di tempat tidurnya sesudah kugendong dari ruangan tamu. Seperti kecupan barusan, ini kali situasinya lebih halus, romantis dan perlahan-lahan. Vivi kadang-kadang menciumi dan cukup menggigit daun telingaku saat saya sedang mencumbu lehernya. Vivi kadang-kadang mencekram lenganku dan punggungku. Kaki kanannya diangkat sampai ke pinggangku dan terkadang ia gesek-gesekkan. Dalam pikiranku, kemungkinan ini kali ejakulasiku tidak sepanjang sama seperti Tante Caca karena terikut romantisnya situasi.Disini saya dapat mengetahui jika Vivi itu type orang romantis dan halus. Tetapi tetap gairahnya besar. Justru dia segera arahkan dan menusukkan penisku ke lubang senggamanya tanpa episode-adegan lain. Sehubungan Vivi masih virgin, memasukkan tidak gampang. Perlu sedikit dorongan dan tahan sakit terhitung saya juga. Muka Vivi terlihat meredam sakit. Gigi atasnya menggigit bibir bawahnya dan matanya terpejam keras sama seperti keasaman makan buah mangga atau jambu yang asem. Tidak lama, "Aaahh.. aa.. aahh.." Vivi berteriak cukup keras, saya ngerinya kedengar sampai keluar. Selaput perawannya telah tertembus. Saya coba menggoyahkan mundur-maju dalam lubang yang sempit itu. Tetapi, saya berasa begitu enak sekali senggama di lubang perawan. Vivi ikut-ikutan goyang mundur-maju sekalian meraba-raba dadaku dan mencium bibirku. Rupanya betul perkiraanku. Sedikit kembali saya akan ejakulasi. Kemungkinan cuma sekitaran 6 menit. Walau demikian, keringatku juga masih tetap mengalir. Begitu juga Vivi.Dengan cukup meredam ejakulasi, giliran kurebahkan Vivi, kukeluarkan penisku lalu kukocokdi atas dadanya. Kemungkinan karena masih sempit dan rapatnya selaput dara Vivi, tangkai penisku menjadi lebih gampang tergores hingga bisa lebih cepat juga ejakulasinya. Ditambahkan juga dalam satu minggu itu saya tidak masturbasi, menonton BF, atau beberapaya. Selanjutnya, "Crit.. crit.. crott.." kembali kujatuhkan spermaku di badan orang untuk ke-2 kalinya. Kusemprotkan spermaku di dada dan payudaranya Vivi. Ini kali kencrotannya semakin sedikit, tetapi spermanya lebih kental. Bahkan juga ada yang sampai berkenaan leher dan dagunya. Vivi yang baru pertama kalinya menyaksikan sperma lelaki, coba ingin ketahui bagaimana rasanya menelan sperma. Vivi mengantongi sedikit dengan cukup canggung dan gestur mukanya sedikit memvisualisasikan orang jijik, dan lalu menjilatnya. Terus, Vivi berbicara dengan polos, "Emm.. ee.. De.. kalau ‘itu' bagaimana sich rasanya?" sekalian menunjuk ke kejantananku yang tetap berdiri tegak dan kuat. "Eh.. hmm hmm.. coba saja sendiri.." sekalian tersenyum dia menggenggam tangkai kemaluanku perlahan-lahan dan cukup canggung. Tidak lama, dia mulai memompa mulutnya perlahan-lahan malu karena baru pertama kalinya. Kemungkinan dia sekaligus bersihkan tersisa spermaku yang menetes di sekujur batangku itu. Kusaksikan sepintas di lubang vaginanya, ada bintik darah yang selekasnya kubersihkan dengan tissue dan lap. Sesudah usai, saya yang kekurangan stamina, terkulai lemah di tempat tidur Vivi, sementara Vivi tiduran dari sisi. Kami sama senang, khususnya saya yang senang mengolah ibu dan anaknya itu.
ABG Bokep Indo Panlok Bispak Blowjob
Belum ada komentar dikirimkan
Nonton Bokep ABG Indo